Analis Sebut Belarus Kian Relevan bagi Indonesia di Tengah Agenda Industrialisasi

Belarus bagi Indonesia dinilai semakin penting di tengah agenda industrialisasi nasional, penguatan manufaktur, serta diversifikasi kerja sama ekonomi.
Belarus bagi Indonesia dinilai semakin strategis karena menawarkan kerja sama manufaktur, alih teknologi, dan penguatan ketahanan pangan.

LENTERAMERAH – Belarus dinilai semakin memiliki posisi strategis bagi Indonesia, bukan semata karena hubungan diplomatik yang telah terjalin lebih dari tiga dekade, melainkan karena perubahan kebutuhan nasional yang kini berorientasi pada industrialisasi, alih teknologi, dan penguatan ketahanan pangan.

Pandangan tersebut disampaikan Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia–Belarus (PPIB) sekaligus peneliti Eurasia, Fauzan Luthsa, dalam analisisnya mengenai perkembangan hubungan bilateral kedua negara.

Menurut Fauzan, kunjungan kenegaraan Presiden Belarus Alexander Lukashenko ke Jakarta pada 1 Juli 2026 menjadi momentum penting yang menunjukkan hubungan kedua negara telah memasuki fase baru.

“Pertanyaan yang lebih menarik bukan lagi apa yang ditawarkan Belarus, melainkan mengapa negara itu menjadi jauh lebih relevan bagi Indonesia saat ini,” kata Fauzan.

Ia menilai perubahan tersebut tidak terjadi karena Belarus menawarkan kebijakan baru, melainkan karena kebutuhan strategis Indonesia ikut berubah dalam beberapa tahun terakhir.

Industrialisasi Ubah Cara Pandang Indonesia

Fauzan menjelaskan, agenda industrialisasi yang semakin menguat sejak program hilirisasi pada pemerintahan sebelumnya kini berkembang lebih luas di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Orientasi pembangunan, menurutnya, tidak lagi hanya menitikberatkan pada peningkatan nilai perdagangan, tetapi juga pada penguatan basis manufaktur nasional, alih teknologi, pembangunan kapasitas produksi, dan ketahanan pangan.

Dalam konteks tersebut, Belarus dinilai menawarkan model kerja sama yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia.

Negara itu memiliki pengalaman panjang dalam industri alat berat, mesin pertanian, kendaraan komersial, rekayasa manufaktur, hingga produksi pupuk berbasis potash.

“Yang ditawarkan bukan sekadar produk jadi, tetapi juga pembangunan perusahaan patungan, fasilitas perakitan, pelatihan sumber daya manusia, hingga alih teknologi,” ujar Fauzan.

Menurutnya, pola kerja sama semacam itu menjadi jauh lebih relevan dibanding satu dekade lalu ketika orientasi pembangunan industri nasional belum sekuat sekarang.

Ketahanan Pangan Perkuat Nilai Strategis

Selain sektor manufaktur, Fauzan menilai kerja sama dengan Belarus juga berkaitan erat dengan agenda ketahanan pangan Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa potash tidak hanya merupakan komoditas perdagangan, tetapi menjadi bahan baku penting bagi industri pupuk yang berpengaruh langsung terhadap produktivitas sektor pertanian.

Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, diversifikasi sumber pasokan pupuk menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan pangan nasional.

Karena itu, Belarus dinilai mampu memberikan kontribusi yang lebih besar dibanding sekadar peningkatan volume perdagangan bilateral.

FTA EAEU Buka Peluang Baru

Fauzan juga menyoroti penyelesaian Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA) antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) sebagai faktor yang memperkuat momentum hubungan kedua negara.

Menurutnya, keberadaan FTA tersebut akan membuka peluang investasi, kerja sama industri, serta integrasi rantai pasok yang sebelumnya belum tersedia.

“Dalam konteks ini, Belarus tidak lagi dipandang semata sebagai negara di Eropa Timur, tetapi sebagai bagian dari ekosistem Eurasia yang semakin penting bagi strategi diversifikasi ekonomi Indonesia,” katanya.

Kesamaan Nilai Jadi Faktor Pendukung

Di luar aspek ekonomi, Fauzan menilai hubungan Indonesia dan Belarus juga memperoleh ruang yang lebih kondusif karena adanya irisan nilai dalam memandang hubungan internasional.

Ia menyebut prinsip-prinsip Dasasila Bandung dan Piagam Eurasia sama-sama menempatkan penghormatan terhadap kedaulatan, kesetaraan antarnegara, penyelesaian sengketa secara damai, serta penolakan terhadap dominasi sebagai landasan hubungan internasional.

Meski demikian, ia menegaskan kesamaan nilai tersebut bukan faktor utama yang mendorong peningkatan hubungan bilateral. Menurutnya, faktor penentu tetap terletak pada bertemunya kepentingan strategis kedua negara.

Keberhasilan Diukur dari Implementasi

Fauzan menilai keberhasilan Roadmap Kerja Sama Indonesia–Belarus 2026–2030 nantinya tidak dapat diukur dari banyaknya nota kesepahaman yang ditandatangani.

Ia mengatakan keberhasilan baru akan terlihat apabila berbagai kesepakatan tersebut mampu diwujudkan menjadi investasi yang terealisasi, pembangunan fasilitas industri, alih teknologi, serta penguatan rantai pasok yang meningkatkan daya saing industri nasional.

“Jika itu terwujud, kunjungan Presiden Lukashenko akan dikenang bukan sekadar sebagai agenda diplomatik, tetapi sebagai momentum lahirnya kemitraan strategis baru antara Indonesia dan Belarus,” pungkasnya. ***