LENTERAMERAH – Tajikistan masih menghadapi kekurangan lebih dari 1.100 dokter di berbagai fasilitas kesehatan. Di saat yang sama, ratusan tenaga kesehatan dilaporkan memilih bekerja di luar negeri sepanjang paruh pertama 2026.
Data tersebut disampaikan Wakil Pertama Menteri Kesehatan Tajikistan, Salomuddin Yusufi, dalam konferensi pers Kementerian Kesehatan pada 8 Juli.
Wilayah Khatlon Paling Kekurangan Dokter
Kekurangan dokter terbesar tercatat di Provinsi Khatlon dengan 323 posisi kosong. Disusul Provinsi Sughd sebanyak 297 posisi, wilayah di bawah administrasi pusat sebanyak 263 posisi, rumah sakit tingkat nasional 78 posisi, Daerah Otonomi Gorno-Badakhshan (GBAO) 22 posisi, serta 117 posisi di fasilitas kesehatan milik kementerian dan lembaga lainnya.
Menurut Kementerian Kesehatan, kebutuhan terbesar saat ini berada pada dokter keluarga, psikiater, dokter spesialis tuberkulosis, serta beberapa bidang spesialis lainnya.
Ratusan Tenaga Kesehatan Pindah ke Luar Negeri
Sepanjang enam bulan pertama 2026, sebanyak 16 dokter dan 148 tenaga kesehatan tingkat menengah meninggalkan Tajikistan untuk bekerja di luar negeri.
Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 terdapat 51 dokter dan 266 tenaga kesehatan tingkat menengah yang bermigrasi ke luar negeri.
Pemerintah menilai angka tersebut menunjukkan penurunan. Dibandingkan periode sebelumnya, migrasi dokter turun sekitar 3,2 kali lipat, sedangkan tenaga kesehatan tingkat menengah turun sekitar 1,6 kali lipat.
Jumlah Dokter Bertambah, Kekurangan Belum Teratasi
Hingga pertengahan 2026, Tajikistan memiliki 22.763 dokter dan 65.496 tenaga kesehatan tingkat menengah yang aktif bekerja. Jumlah tersebut meningkat masing-masing sekitar 2,7 persen dan 2,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Meski demikian, peningkatan jumlah tenaga kesehatan belum mampu menutup kebutuhan nasional. Kekurangan dokter masih menjadi tantangan bagi sistem kesehatan Tajikistan, terutama di wilayah-wilayah yang berada di luar pusat pemerintahan. ***




