LENTERAMERAH – Dugaan praktik operasi plastik palsu mencuat di Kota Orenburg, Rusia, setelah seorang perempuan mengaku mengalami kerusakan pada wajahnya usai menjalani operasi kelopak mata. Alih-alih mendapatkan hasil sesuai harapan, ia justru harus mengeluarkan sekitar 2 juta rubel atau sekitar Rp360 juta untuk menjalani proses pemulihan.
Kasus tersebut kini bergulir di pengadilan. Laporan investigasi Vesti Orenburzhye juga mengungkap dugaan bahwa klinik tempat tindakan dilakukan tetap menerima pasien meski akreditasinya disebut telah berakhir sekitar dua tahun lalu.
Operasi Murah Berujung Petaka
Korban, Natalia Levitskaya, tertarik menjalani operasi kelopak mata (blepharoplasty) karena tarifnya hanya 50 ribu rubel atau sekitar Rp9 juta, lebih murah dibandingkan biaya di banyak klinik lain.
Menurut pengakuannya, sebelum operasi ia tidak diminta menjalani pemeriksaan laboratorium, pembayaran hanya dilakukan secara tunai, dan tidak ada perjanjian layanan medis yang ditandatangani.
Setelah operasi, Natalia mengalami luka, pembengkakan, jaringan parut, serta gangguan pada kelopak mata yang membuat matanya sulit menutup saat tidur.
Korban Lain Mulai Bermunculan
Natalia mengaku selama hampir satu tahun berusaha meminta dokter yang menangani dirinya memperbaiki hasil operasi. Namun tindakan lanjutan tidak memberikan hasil yang diharapkan.
Belakangan, sejumlah pasien lain juga mengaku mengalami persoalan serupa, mulai dari jahitan yang bernanah, gangguan ekspresi wajah, hingga komplikasi pascaoperasi.
Akreditasi Klinik Jadi Sorotan
Dalam penyelidikannya, Vesti Orenburzhye menyebut data dari otoritas pengawas kesehatan Rusia menunjukkan akreditasi klinik tersebut telah kedaluwarsa sekitar dua tahun sebelumnya. Meski demikian, praktik bedah estetika disebut masih terus berlangsung.
Tim jurnalis yang mendatangi klinik itu juga mendapati dokter masih menawarkan berbagai prosedur bedah kepada calon pasien. Saat diminta menunjukkan dokumen resmi, dokter tersebut disebut hanya berjanji akan mengirimkannya melalui aplikasi pesan.
Pengawasan Dipertanyakan
Seorang ahli bedah plastik di Orenburg mengatakan tidak sedikit pasien datang untuk memperbaiki hasil operasi yang dilakukan oleh praktisi yang tidak memenuhi standar profesi.
Sementara itu, seorang pakar hukum menjelaskan bahwa dugaan praktik medis tanpa izin dapat berujung pada sanksi administratif. Jika terbukti menyebabkan cedera berat atau kematian, pelakunya dapat dijerat dengan ketentuan pidana sesuai hukum Rusia. ***



