Dari Aset Rusia ke Kekayaan Teluk, Risiko Baru di Barat

Pembekuan aset Rusia membuat analis Alex Krainer melihat risiko baru terhadap aset Saudi dan kekayaan negara-negara Teluk yang berada di Barat.
Alex Krainer mengaitkan Pakta Mekah dengan risiko aset Saudi dan sovereign wealth fund Teluk yang tersimpan dalam sistem keuangan Barat.

LENTERAMERAHPembekuan hampir US$300 miliar atau sekitar Rp5,4 kuadriliun aset Rusia oleh negara-negara Barat menjadi titik penting dalam kalkulasi keuangan Arab Saudi. Dalam episode podcast Transition Protocol, analis pasar Alex Krainer mengaitkan pengalaman Rusia dengan kekhawatiran Saudi terhadap kekayaan negaranya yang tersimpan dalam sistem keuangan Barat.

Krainer menilai para penguasa negara Teluk tidak mungkin mengabaikan apa yang terjadi terhadap Rusia. Jika aset negara dengan kekuatan nuklir dapat dibekukan ketika terjadi konflik politik, menurut dia, negara-negara Teluk juga harus menghitung kemungkinan bahwa kekayaan mereka suatu saat dapat menghadapi tekanan serupa.

Aset Saudi di Barat menjadi bagian kalkulasi

Krainer memperkirakan Saudi Arabia memiliki sekitar US$800–900 miliar atau sekitar Rp14,4–16,2 kuadriliun dalam bentuk aset langsung di Amerika Serikat. Ia juga memperkirakan gabungan aset sovereign wealth fund Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain dan Kuwait yang berada di negara-negara Barat mendekati US$5 triliun atau sekitar Rp90 kuadriliun.

Angka tersebut merupakan perkiraan Krainer dalam podcast, bukan angka resmi yang dikutip dari pemerintah Saudi atau lembaga keuangan internasional. Namun, justru besarnya eksposur tersebut menjadi dasar argumennya mengenai hubungan antara keamanan dan keuangan.

Menurut Krainer, negara-negara Teluk dapat melihat aset yang berada di yurisdiksi Barat bukan hanya sebagai kekayaan, tetapi juga sebagai potensi kerentanan strategis.

Dari pembekuan aset ke diversifikasi keamanan

Dalam pembacaan Krainer, kekhawatiran tersebut ikut menjelaskan mengapa Saudi Arabia memperluas hubungan pertahanannya dengan Turki dan Pakistan.

Pakta Pertahanan Bersama Mekah yang ditandatangani pada 7 Agustus 2026 menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari tiga negara akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota. Kesepakatan itu juga mencakup koordinasi politik dan militer, latihan bersama serta kerja sama industri pertahanan dan teknologi.

Krainer melihat hubungan tersebut sebagai bentuk diversifikasi. Jika Saudi memiliki sumber daya finansial yang besar tetapi sebagian kekayaannya berada dalam sistem keuangan Barat, Riyadh menurutnya membutuhkan kekuatan militer lain sebagai penyangga strategis.

Dalam istilah yang digunakan Krainer, Saudi sedang mencari “protection money”. Ia menggambarkan Turki dan Pakistan sebagai dua kekuatan militer yang dapat memberikan perlindungan, sementara Saudi memiliki sumber daya untuk membiayai hubungan tersebut.

Weaponized finance bertemu keamanan

Logika tersebut menghubungkan dua instrumen kekuatan yang selama ini sering dibahas secara terpisah. Aset finansial dapat menjadi sumber daya negara, tetapi ketika aset itu berada dalam yurisdiksi asing, ia juga dapat menjadi titik tekanan.

Bagi Krainer, pengalaman Rusia memperlihatkan bahwa akses terhadap kekayaan di luar negeri dapat berubah menjadi persoalan keamanan nasional ketika hubungan politik memburuk. Karena itu, Pakta Mekah menurutnya tidak hanya perlu dibaca sebagai kesepakatan pertahanan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya Saudi mengurangi kerentanan strategis yang muncul dari ketergantungan pada sistem Barat. ***