LENTERAMERAH — Keamanan Saudi Arabia mulai memasuki konfigurasi yang lebih beragam setelah Riyadh menandatangani Pakta Pertahanan Bersama Mekah dengan Turki dan Pakistan. Kesepakatan tersebut memberikan Saudi pilihan tambahan di tengah perubahan lingkungan keamanan Timur Tengah dan pertanyaan mengenai seberapa jauh ketergantungan pada Amerika Serikat dapat dipertahankan.
Pakta yang ditandatangani pada 7 Agustus 2026 itu menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari tiga negara akan dipandang sebagai serangan terhadap seluruh anggota. Turki dan Pakistan menegaskan bahwa kesepakatan tersebut bersifat defensif dan tidak ditujukan kepada negara tertentu.
Keamanan Saudi Arabia tidak lagi bertumpu pada satu poros
Berbicara dalam podcast Transition Protocol yang terbit pada 11 Agustus 2026, analis pasar Alex Krainer melihat keputusan Riyadh sebagai upaya mencari pelindung tambahan di luar Amerika Serikat.
Menurut Krainer, pengalaman negara-negara Teluk dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa hubungan keamanan dengan Washington tidak selalu memberikan kepastian ketika terjadi eskalasi regional. Dalam pandangannya, Saudi mulai menghitung kebutuhan untuk memiliki kekuatan militer lain yang dapat menjadi penyangga apabila situasi memburuk.
Pilihan Riyadh memiliki logika tersendiri. Turki merupakan anggota NATO dengan kekuatan militer besar dan industri pertahanan yang berkembang, sementara Pakistan memiliki pengalaman militer luas dan merupakan satu-satunya negara Muslim yang memiliki senjata nuklir.
Turki dan Pakistan menawarkan kemampuan berbeda
Pakta Mekah menyatukan tiga jenis kekuatan yang berbeda. Saudi Arabia memiliki sumber daya ekonomi dan posisi strategis di Teluk, Turki memiliki kemampuan militer dan industri pertahanan, sedangkan Pakistan membawa pengalaman tempur serta kapasitas strategis yang tidak dimiliki negara Muslim lainnya.
Kombinasi tersebut membuat Riyadh tidak harus menggantungkan seluruh kebutuhan pertahanannya pada satu mitra eksternal. Bagi Krainer, hubungan itu pada dasarnya merupakan bentuk diversifikasi keamanan.
Ia bahkan menggunakan istilah “protection money” untuk menggambarkan hubungan tersebut. Menurutnya, Saudi dapat menyediakan sumber daya ekonomi, sementara Turki dan Pakistan memberikan kapasitas militer dan jaminan keamanan yang lebih besar.
Pakta ini bukan pengganti hubungan dengan Washington
Namun, pembentukan pakta tersebut tidak berarti Saudi Arabia secara resmi meninggalkan hubungan pertahanannya dengan Amerika Serikat. Kesepakatan Mekah juga dinyatakan tidak menggantikan perjanjian bilateral maupun multilateral yang sudah dimiliki masing-masing negara.
Turki dan Pakistan bahkan menekankan bahwa pakta tersebut tidak diarahkan terhadap Iran atau negara tertentu lainnya. Mekanisme operasionalnya juga masih harus dibahas melalui komite yang akan dibentuk oleh ketiga negara.
Perubahan yang lebih penting justru terlihat pada pilihan strategis Riyadh. Saudi Arabia kini memiliki satu lapisan tambahan dalam arsitektur keamanannya, dengan dua negara yang memiliki kemampuan militer besar berada dalam kerangka pertahanan bersama.
Bagi Krainer, langkah tersebut menunjukkan bahwa Riyadh tidak lagi ingin menempatkan seluruh taruhan keamanannya pada satu kekuatan eksternal. ***




