LENTERAMERAH — Perang Iran-AS di Selat Hormuz telah mengubah jalur perdagangan energi Timur Tengah. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz merosot tajam, sementara ekspansi Ansarallah di sekitar Bab el-Mandeb membuat Arab Saudi kehilangan semakin banyak pilihan untuk mengirim minyak.
Reuters melaporkan pada 15 September bahwa hanya empat kapal komoditas yang melewati Selat Hormuz pada Senin, dibandingkan rata-rata sekitar 125 transit per hari sebelum perang. Aktivitas di Bab el-Mandeb juga turun dari 28 menjadi 21 transit dalam periode yang sama.
Situasi itu menjelaskan tekanan terhadap ekspor minyak Saudi. New York Times melaporkan ekspor minyak mentah Saudi pada Agustus hanya sekitar 3,2 juta barel per hari, terendah dalam sedikitnya 13 tahun menurut data Kpler.
Riyadh sebelumnya mencoba menghindari Selat Hormuz dengan mengalihkan minyak melalui East-West Pipeline menuju terminal Yanbu di Laut Merah. Namun jalur alternatif tersebut ikut terganggu setelah pipa mengalami serangan yang menurut laporan Saudi dikaitkan dengan kelompok yang beroperasi dari Irak.
Di sisi lain, Ansarallah memperluas posisi di pesisir Laut Merah. Kelompok tersebut telah menguasai Mayun atau Perim Island di dekat Bab el-Mandeb dan mempertahankan kendali atas sejumlah wilayah strategis di pesisir, sehingga jalur alternatif Saudi menuju Laut Merah juga menghadapi risiko.
Perang Iran-AS di Selat Hormuz Memperbesar Tekanan Energi
Tekanan tersebut sudah terasa di pasar minyak. Brent sempat menembus lebih dari 105 dolar AS per barel setelah gangguan terhadap infrastruktur dan jalur pelayaran Saudi.
Dalam konteks itu, argumen bahwa Iran tidak harus memenangkan perang secara militer untuk memperoleh keuntungan strategis menjadi relevan. Jika perang berlangsung cukup lama dan biaya energi, pelayaran, asuransi serta logistik terus meningkat, tekanan terhadap Amerika Serikat dan sekutunya dapat menjadi bagian dari kalkulasi perang.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sendiri membawa persoalan tersebut ke KTT BRICS di New Delhi pada September. Ia mempertanyakan siapa yang memberikan Amerika Serikat hak untuk menentukan bagi seluruh dunia bahwa negara lain tidak memiliki hak dan harus mengikuti kehendaknya.
Pezeshkian juga mengatakan Timur Tengah tidak membutuhkan Amerika Serikat sebagai “polisi kawasan” dan bahwa keamanan kawasan harus dijamin oleh negara-negara di kawasan itu sendiri.
Namun, klaim bahwa negara-negara Teluk sudah mendekati pengakuan formal atas kewenangan Iran di Selat Hormuz belum didukung bukti yang cukup. Yang terlihat sejauh ini adalah meningkatnya tekanan diplomatik untuk membuka kembali jalur pelayaran, sementara lalu lintas kapal tetap jauh di bawah kondisi normal. ***



