LENTERAMERAH — Ketika Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengatakan Iran hampir kehabisan daya tawar ekonomi, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memilih cara yang tidak biasa untuk membalasnya.
Ia tidak membalas dengan pidato panjang. Ghalibaf justru mengunggah sebuah rumus matematika, lengkap dengan meme Looney Tunes.
Sebelumnya, Bessent mengatakan Iran hanya memiliki sekitar 15 juta barel minyak yang masih dalam perjalanan, sebagian besar menuju China. Dalam dua minggu, menurutnya, Iran akan “tidak punya apa-apa lagi untuk ditukar”.
Sean Hannity kemudian mengunggah potongan pernyataan tersebut di X dengan judul “RUNNING ON EMPTY…”.
Pada 30 September 2026, Ghalibaf membalas unggahan itu dengan sebuah formula berjudul “Trajectory of Stress on the House”.
Rumusnya berbunyi:
Ω(t) = Weight / Capacity + Iran Levers
Secara sederhana, Ghalibaf sedang membalik narasi Washington.
“Weight” adalah beban yang semakin berat: utang yang menumpuk, utang yang mendekati jatuh tempo, serta kenaikan yields. “Capacity” adalah kemampuan sistem keuangan AS untuk menyerap beban tersebut, termasuk ruang gerak Federal Reserve, pembeli asing obligasi, pertumbuhan ekonomi, dan kapasitas pasar.
Lalu muncul bagian yang paling politis: “Iran Levers”.
Ghalibaf memasukkan energi, obligasi, dan tekanan terhadap Federal Reserve sebagai tuas yang masih dimiliki Iran. Jadi, ketika AS mengatakan Iran sedang kehabisan ruang gerak, Ghalibaf menjawab dengan logika yang berbeda: tekanan tidak bergerak satu arah. Pihak yang menekan juga memiliki titik rentan.
Ia bahkan memberikan trajektori:
Ω(t₀) < Ω(Nov) < Ω(2027)
Dalam bahasa politik, pesannya cukup jelas. Menurut konstruksi Ghalibaf, persoalannya bukan apakah Iran akan mengalami tekanan, tetapi apakah tekanan terhadap Iran akan sekaligus menciptakan tekanan yang lebih besar pada sistem yang sedang mencoba menekannya.
Kemudian Ghalibaf menambahkan meme Wile E. Coyote yang berjalan menuju tebing. Di sinilah rumus tersebut berubah dari sekadar gimmick menjadi sindiran geopolitik berbalut matematika.
Alih-alih membantah klaim Bessent secara langsung, Ghalibaf seolah mengatakan: silakan menghitung berapa banyak minyak yang masih dimiliki Iran, tetapi jangan lupa menghitung juga biaya yang harus ditanggung pihak yang sedang melakukan pengepungan.
Bentuk komunikasinya memang tidak lazim. Seorang pejabat politik menggunakan persamaan untuk menyampaikan serangan geopolitik, lalu menutupnya dengan karakter kartun yang terkenal karena terus berlari menuju jurang sebelum menyadari bahwa tanah di bawah kakinya sudah tidak ada.
Rumusnya bukan model ekonometrika yang dapat diperlakukan sebagai prediksi kuantitatif. Ia bekerja terutama sebagai perangkat retoris: mengubah perdebatan tentang siapa yang “kehabisan” menjadi pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya sedang menanggung akumulasi tekanan.
Dan justru di situlah sindirannya bekerja. ***




