LENTERAMERAH — Serangan Ansarallah Yaman terhadap bandara-bandara Arab Saudi pada Oktober 2026 berlangsung dalam konflik yang memiliki sejarah panjang serangan udara terhadap infrastruktur penerbangan Yaman.
Ketika serangan ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menewaskan belasan orang dan melukai ratusan lainnya, rekam jejak pemboman koalisi Saudi-Emirat terhadap Bandara Internasional Sanaa sejak 2015 kembali relevan untuk melihat skala konflik tersebut.
Pada 10 Oktober, serangan terhadap Bandara King Khalid di Riyadh menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang, menurut otoritas penerbangan sipil Saudi yang dikutip Reuters. Operasi bandara dihentikan sementara, sementara penerbangan dialihkan atau dibatalkan.
Ansarallah Yaman kemudian mengklaim serangan tersebut. Pada 11 Oktober, sebuah proyektil kembali menghantam Terminal 4 di bandara Riyadh dan memicu kebakaran. Koalisi pimpinan Saudi juga melaporkan sebuah proyektil jatuh di sekitar Bandara Internasional King Fahd di Dammam.
Eskalasi itu menyusul serangan terhadap bandara Riyadh pada hari-hari sebelumnya. Ansarallah Yaman juga memperingatkan maskapai dan penumpang agar menghindari bandara serta wilayah udara Saudi yang disebutnya sebagai medan operasi, dengan pengecualian wilayah udara di atas Mekkah dan Madinah.
Jauh sebelum serangan terbaru di Saudi, Bandara Internasional Sanaa telah berulang kali menjadi sasaran kampanye udara koalisi pimpinan Saudi yang melibatkan Uni Emirat Arab dan sejumlah negara lain. Intervensi militer itu dimulai pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam menghadapi Ansarallah.
Berbagai sumber menyebutkan bahwa Bandara Sanaa mengalami lebih dari 227 serangan udara antara 26 Maret 2015 dan Februari 2022. Rincian tahunan yang beredar mencatat 67 serangan pada 2015, 62 pada 2016, tujuh pada 2017, 47 pada 2018, tujuh pada 2019, 15 pada 2020, 12 pada 2021, dan 10 pada 2022.
Panel Ahli PBB mendokumentasikan serangan koalisi terhadap Bandara Sanaa pada April 2015. Serangan tersebut menghantam landasan pacu, sejumlah pesawat penumpang komersial, dan bangunan bandara. Landasan pacu sempat tidak dapat digunakan sehingga penerbangan tidak bisa mendarat atau lepas landas selama perbaikan berlangsung.
Serangan pada fase awal perang juga menghancurkan sejumlah pesawat militer Yaman yang berada di bandara. Kerusakan terhadap pesawat dan landasan memperlihatkan bahwa dampaknya tidak terbatas pada sasaran militer, tetapi juga menyentuh infrastruktur yang dibutuhkan untuk pergerakan warga sipil dan pengiriman bantuan kemanusiaan.
Perbedaan skala terlihat dari lamanya kampanye udara terhadap Yaman. Serangan terhadap Bandara Sanaa berlangsung berulang selama bertahun-tahun, sedangkan gelombang serangan Ansarallah Yaman terhadap bandara Saudi yang dilaporkan pada Oktober 2026 merupakan bagian dari eskalasi terbaru dalam konflik yang kembali meluas.
Yemen Data Project, yang menghimpun data serangan udara koalisi Saudi-Emirat sejak 2015 hingga April 2022, mencatat ribuan serangan udara di berbagai wilayah Yaman. Data proyek tersebut membedakan air raids dari air strikes, sehingga jumlah serangan individual tidak selalu sama dengan jumlah operasi serangan yang tercatat.
Dampak terhadap penerbangan sipil juga menjadi perhatian PBB sejak fase awal perang. Pada Mei 2015, Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Yaman memperingatkan bahwa penutupan landasan Bandara Sanaa menghambat masuknya staf kemanusiaan, obat-obatan dan bantuan penyelamat nyawa, sekaligus menghalangi evakuasi medis. ***



