Dushanbe Gelar Konferensi Linguistik tentang Masa Depan Bahasa Tajik

Konferensi linguistik internasional di Dushanbe mempertemukan peneliti bahasa Tajik untuk membahas sejarah, perubahan sosial, globalisasi, dan kecerdasan buatan.
Tajikistan menggelar konferensi linguistik internasional untuk membahas sejarah, perkembangan, dan posisi bahasa Tajik di era teknologi digital.

LENTERAMERAH — Konferensi linguistik internasional yang mempertemukan peneliti bahasa Tajik dari berbagai negara mulai berlangsung di Dushanbe, Tajikistan, pada 16 Oktober 2026. Konferensi ketiga bertema “Bahasa Kami adalah Dunia Kami” itu membahas perkembangan bahasa, perubahan masyarakat, serta tantangan yang muncul akibat globalisasi dan kemajuan teknologi.

Menurut kantor berita nasional Tajikistan, Khovar, konferensi tersebut diikuti para ahli bahasa dan peneliti yang mempelajari bahasa Tajik. Programnya mencakup lima seksi pembahasan, dengan topik mulai dari sejarah bahasa hingga perkembangan linguistik pada masa kemerdekaan Tajikistan.

Bahasa Tajik di tengah globalisasi dan kecerdasan buatan

Salah satu agenda konferensi membahas posisi bahasa dalam era globalisasi, digitalisasi, dan kecerdasan buatan. Topik ini menempatkan perkembangan bahasa bukan hanya sebagai persoalan kebudayaan, tetapi juga berkaitan dengan perubahan teknologi dan cara masyarakat berkomunikasi.

Agenda lainnya mencakup sejarah bahasa dan persoalan terkait, perkembangan linguistik selama periode kemerdekaan, serta hubungan antara pembangunan masyarakat dan bahasa.

Pembahasan tersebut berlangsung ketika penggunaan teknologi digital dan kecerdasan buatan semakin memengaruhi produksi, penerjemahan, serta penyebaran informasi. Namun, laporan Khovar tidak merinci teknologi atau kebijakan tertentu yang menjadi fokus pembahasan para peserta.

Bahasa Tajik melampaui batas negara

Dalam konferensi tersebut, para peserta menyoroti keberadaan komunitas penutur bahasa Tajik di sejumlah negara, termasuk Iran, Afghanistan, Uzbekistan, Kazakhstan, Kirgistan, China, India, dan Pakistan.

Menurut keterangan yang disampaikan dalam konferensi, bahasa Tajik menjadi bahasa ibu bagi jutaan penduduk di kawasan tersebut. Keberadaan komunitas penutur lintas negara memberikan dimensi regional pada upaya penelitian dan pengembangan bahasa ini.

Di Tajikistan sendiri, bahasa Tajik berstatus sebagai bahasa negara dan merupakan bahasa ibu bagi mayoritas penduduk. Pemerintah Tajikistan juga telah menetapkan Program Pengembangan Bahasa Negara untuk periode 2020–2030.

Program tersebut diarahkan untuk mendukung perkembangan bahasa Tajik dalam kedudukannya sebagai bahasa negara. Konferensi di Dushanbe menjadi salah satu forum bagi para peneliti untuk membahas sejarah, kondisi, dan arah perkembangan bahasa tersebut.

Selain agenda akademik, panitia merencanakan kunjungan peserta ke sejumlah tempat bersejarah dan objek kebudayaan di Dushanbe serta Hisor. ***