Kesadaran Politik Tanpa Organisasi Hanyalah Obrolan Warung Kopi

Kesadaran politik tanpa organisasi berisiko berhenti sebagai obrolan warung kopi. Zen RS menekankan pentingnya membangun kekuatan kolektif.
Zen RS mengkritik politik yang hanya mengandalkan adu gagasan. Baginya, kemarahan, kekecewaan, dan mimpi warga perlu diorganisasi.

LENTERAMERAH — Mengapa masyarakat bisa semakin sadar terhadap persoalan politik, tetapi tetap kesulitan mengubah keputusan penguasa? Bagi Zen Rachmat Sugito atau Zen RS, salah satu masalahnya terletak pada cara politik dipahami sebagai kompetisi pengetahuan dan gagasan, sementara kemampuan mengorganisasi kekuatan kolektif justru kurang mendapat perhatian.

Dalam klip pembicaraan yang dibagikan akun X @reftif_ pada 11 Oktober 2026, Zen mengkritik pemahaman politik yang mengutamakan kemampuan berdebat, menguasai data, dan menyusun argumentasi. Cara pandang tersebut berisiko menyingkirkan warga biasa yang tidak memiliki akses atau pengalaman serupa, termasuk petani dan kelompok di luar lingkaran elite.

Politik akhirnya seolah menjadi arena bagi mereka yang paling terdidik, paling fasih menyampaikan gagasan, atau paling mampu menyajikan data. Padahal, kemampuan menjelaskan persoalan tidak otomatis memberikan kemampuan untuk memengaruhi keputusan politik.

Ketika Kesadaran Tidak Berubah Menjadi Kekuatan

Zen mempertanyakan keterbatasan respons masyarakat terhadap berbagai rancangan undang-undang yang dipersoalkan sejak 2019. Pembuatan materi kampanye di media sosial, penyusunan alternatif pasal, podcast, dan demonstrasi berulang kali menjadi saluran kritik, tetapi menurut argumennya, aktivitas tersebut tidak selalu mampu menghentikan proses politik yang ditentang.

Masalahnya bukan berarti diskusi, pengetahuan, atau demonstrasi tidak berguna. Persoalannya adalah apa yang terjadi setelah perhatian publik terbentuk, ketika kemarahan dan kekecewaan belum terhubung dengan struktur yang dapat mempertahankan tindakan bersama.

Zen juga mengkritik kecenderungan sebagian gerakan yang menunggu pergerakan elite sebelum mengambil tindakan. Dalam pandangannya, ketergantungan semacam itu membuat warga terus membaca gerak-gerik orang yang berada di pusat kekuasaan untuk menentukan kapan mereka sendiri harus bergerak.

Akibatnya, masyarakat dapat memiliki kesadaran politik tanpa memiliki kapasitas kolektif yang cukup untuk menentukan agenda dan mempertahankan tekanan.

Pelajaran Bolshevik dan Gagasan yang Memiliki Kaki

Untuk menjelaskan perbedaan antara gagasan dan kekuatan politik, Zen menggunakan contoh keruntuhan Dinasti Romanov di Rusia. Ia menekankan bahwa keberadaan gagasan Marxis saja tidak cukup menjelaskan perubahan tersebut; Partai Bolshevik menjadi organisasi yang menghubungkan gagasan dengan tindakan politik.

Analogi itu bukan penjelasan lengkap mengenai Revolusi Rusia. Namun, dalam argumen Zen, contoh tersebut menunjukkan bahwa gagasan membutuhkan organisasi yang mampu menghubungkan pemikiran, orang, dan tindakan.

Tanpa penghubung tersebut, gagasan berisiko berhenti sebagai wacana yang beredar di antara orang-orang yang sudah memiliki kesadaran serupa. Organisasi memungkinkan aspirasi yang tersebar diterjemahkan menjadi tujuan bersama dan tindakan yang berkelanjutan.

Akal Sehat dan Batas Politik yang Dianggap Wajar

Zen juga mengangkat pemikiran Antonio Gramsci mengenai common sense atau akal sehat. Dalam penjelasannya, sesuatu dapat diterima sebagai kewajaran umum justru karena tidak bertentangan dengan tatanan yang berlaku.

Cara berpikir yang dianggap masuk akal belum tentu membantu masyarakat memahami mengapa suatu keadaan bertahan atau siapa yang diuntungkan olehnya. Karena itu, Zen membedakan common sense dari good sense, yakni nalar kritis yang dapat menguji kembali anggapan yang selama ini diterima begitu saja.

Persoalan tersebut berkaitan dengan cara masyarakat memahami politik. Jika batas-batas kewajaran yang berlaku tidak pernah dipertanyakan, kritik dapat berakhir pada perdebatan mengenai kebijakan tertentu tanpa menyentuh struktur yang membuat persoalan serupa terus berulang.

Namun, kritik terhadap common sense saja juga tidak cukup. Perubahan cara berpikir perlu terhubung dengan kemampuan bertindak bersama agar tidak berhenti sebagai wacana intelektual.

Mengorganisasi Kemarahan dan Kekecewaan

Bagi Zen, tugas politik warga bukan sekadar menambah pengetahuan atau memperbanyak konsumsi podcast politik. Yang diperlukan adalah mengorganisasi kemarahan, kekecewaan, dan mimpi menjadi kekuatan kolektif.

Pengorganisasian dalam kerangka ini bukan hanya mengumpulkan orang dalam sebuah acara atau aksi. Ia menyangkut pembentukan hubungan yang berkelanjutan, penyusunan tujuan bersama, dan kemampuan mempertahankan tindakan setelah perhatian publik mereda.

Itulah sebabnya Zen menekankan pentingnya membangun hubungan baru dan kembali berkumpul setelah sebuah acara selesai. Pertemuan tidak seharusnya berhenti sebagai pengalaman sesaat, tetapi menjadi titik awal bagi hubungan dan kerja kolektif berikutnya.

Gagasan utamanya bukan bahwa pengetahuan harus ditinggalkan, melainkan bahwa pengetahuan dan kritik politik membutuhkan organisasi agar dapat memiliki daya pengaruh. Kemarahan yang tersebar dapat menjadi ekspresi ketidakpuasan, tetapi tanpa koordinasi dan kesinambungan, kemarahan itu belum tentu berubah menjadi kekuatan yang mampu memengaruhi keputusan. ***