LENTERAMERAH — Petani Belarus telah mengumpulkan 3,021 juta ton bit gula hingga pagi 15 Oktober 2026. Bit gula merupakan tanaman berumbi yang diolah untuk menghasilkan gula, berbeda dari tebu yang lebih dikenal sebagai bahan baku gula di Indonesia. Angka tersebut dilaporkan media Belarus, SB.by, ketika pekerjaan pertanian musim gugur masih berlangsung.
Jumlah 3,021 juta ton itu merupakan berat bit gula yang telah dipanen, bukan gula jadi yang sudah diproduksi. Data yang tersedia belum mencantumkan luas lahan yang telah dipanen maupun persentase penyelesaian panen pada tanggal tersebut.
Panen bit gula masih berlangsung
Pemanenan bit gula menjadi bagian dari kegiatan pertanian musim gugur di Belarus. Umbi tanaman ini mengandung sukrosa yang diekstraksi melalui proses industri untuk menghasilkan gula.
Pada 15 Oktober, Presiden Belarus Aleksandr Lukashenko menerima laporan mengenai perkembangan pekerjaan pertanian musim gugur saat mengunjungi perusahaan pertanian Krasny Bor Agro di Distrik Verkhnedvinsk, Vitebsk Oblast.
Menteri Pertanian dan Pangan Belarus Yuri Gorlov menyampaikan perkembangan kegiatan pertanian, termasuk penanaman serealia musim dingin dan pemanenan sejumlah komoditas. Pemerintah menargetkan pekerjaan panen kentang, bit gula, dan sayuran lainnya selesai paling lambat 20 November.
Dengan target tersebut, capaian panen pada pertengahan Oktober belum menandai berakhirnya musim panen tahun ini.
Hasil panen berbeda dari produksi gula
Volume bit gula yang dipanen menjadi salah satu indikator ketersediaan bahan baku bagi industri pengolahan gula. Namun, jumlah gula yang dihasilkan tidak bisa dihitung hanya dari berat umbi yang terkumpul.
Kadar sukrosa dalam umbi, kualitas bahan baku, kehilangan selama penyimpanan dan pengolahan, serta kapasitas pabrik turut memengaruhi hasil produksi akhir.
Data yang tersedia belum merinci proyeksi produksi gula Belarus untuk 2026 ataupun perbandingan hasil panen tahun ini dengan periode yang sama pada musim sebelumnya. Angka akhir panen dan data produksi pabrik diperlukan untuk menilai perubahan pasokan bahan baku serta hasil gula nasional. ***




