Pria Pasien Cuci Darah Menangis, Presiden Kirgistan Japarov Janji Bebaskan Adik Pasien dari Penjara untuk Donor Ginjal

Seorang pasien gagal ginjal di Kirgistan menangis setelah Presiden Sadyr Japarov berjanji mengawal pengampunan adiknya dan membiayai transplantasi ginjal.
Rustam Gapurov menjalani dialisis setiap dua hari. Presiden Kirgistan Sadyr Japarov menjanjikan operasi ginjal gratis di Bishkek dengan biaya negara.

LENTERAMERAH — Rustam Gapurov tak kuasa menahan tangis setelah Presiden Kirgistan Sadyr Japarov berjanji membantu membebaskan adiknya dari penjara agar bisa mendonorkan ginjal untuknya. Di hadapan warga yang menghadiri pertemuan terbuka di Distrik Aksy, wilayah Jalal-Abad, pada 24 Oktober 2026, pria asal Kota Kerben itu menyampaikan permohonan yang menyangkut hidupnya.

Gapurov mengalami gagal ginjal dan harus menjalani hemodialisis atau dialisis darah setiap dua hari. Ia mengatakan transplantasi ginjal menjadi harapan untuk mengakhiri ketergantungannya pada prosedur tersebut. Adik kandungnya bersedia menjadi donor, tetapi masih menjalani hukuman penjara.

Menurut laporan kantor berita Kirgistan AKIpress pada 25 Oktober, Gapurov menjelaskan bahwa adiknya sebelumnya dihukum di Rusia atas tuduhan ekstremisme yang ia anggap palsu. Tahun ini, sang adik diekstradisi ke Kirgistan setelah menjalani tujuh tahun hukuman. Masih ada tiga tahun tersisa dari masa hukuman yang disebutkan dalam pertemuan itu.

“Jika Anda mengampuninya, dia bisa keluar dan menjadi donor untuk saya, memberikan ginjalnya,” kata Gapurov kepada presiden, sebagaimana dikutip AKIpress.

Japarov menanyakan berapa lama adik Gapurov telah menjalani hukuman dan perkara apa yang menjeratnya. Setelah mendengar bahwa tujuh tahun telah dijalani dan tiga tahun tersisa, ia meminta Gapurov segera mengajukan permohonan pengampunan.

“Kalau begitu, tulis permohonan pengampunan. Dalam waktu satu bulan kita bebaskan. Saya akan mengawasi sendiri persoalan ini,” ujar Japarov dalam rekaman pertemuan yang diberitakan media setempat.

Presiden kemudian memastikan bahwa operasi transplantasi ginjal akan dilakukan secara gratis di Bishkek. Biaya yang diperkirakan mencapai US$7.000–8.000, atau sekitar Rp126,5 juta–Rp144,6 juta berdasarkan kurs indikatif US$1 sebesar Rp18.069 pada 27 Oktober 2026, akan ditanggung negara.

Negara menanggung biaya dialisis

Dalam pertemuan tersebut, Japarov juga membahas layanan bagi pasien yang bergantung pada hemodialisis. Ia mengatakan jumlah pasien yang menerima layanan itu di Kirgistan telah meningkat dari sekitar 2.800 menjadi 4.500 orang sejak ia menjabat presiden.

Menurut penjelasannya, negara mengalokasikan sekitar US$15.000 per pasien setiap tahun untuk layanan hemodialisis. Nilai tersebut setara sekitar Rp271 juta dengan kurs yang sama.

Japarov mengatakan transplantasi ginjal di dalam negeri kini tersedia di rumah sakit pemerintah dan fasilitas yang bekerja sama dengan pihak Turki. Sebelumnya, pasien Kirgistan yang membutuhkan transplantasi harus pergi ke negara lain, termasuk India dan Turki, dengan biaya operasi yang disebutnya dapat mencapai US$50.000–60.000 atau sekitar Rp903 juta–Rp1,08 miliar.

Di hadapan warga Aksy, Gapurov mengatakan dirinya menjalani dialisis setiap dua hari, sementara adiknya masih berada di penjara dengan sisa hukuman tiga tahun. Japarov meminta agar permohonan pengampunan segera disiapkan dan menyatakan akan mengawal prosesnya secara pribadi. ***