LENTERAMERAH – Sebuah pesan instan bernada satir berjudul “IHSG (Indeks Harga Saham Gorengan): Review Ambisi Mercusuar Sang Direktur Penilaian Bursa Negeri Konoha”, sejak Jumat ramai beredar di berbagai grup WhatsApp investor, komunitas pasar modal hingga pelaku industri keuangan dalam beberapa waktu belakangan.
Tulisan yang diklaim berasal dari sosok “mantan IB Global yang malang melanglang di Singapura dan Amerika Serikat” itu mengangkat kritik tajam terhadap kondisi pasar modal Indonesia. Dengan gaya satire menggunakan istilah “Negeri Konoha”, penulis menyoroti fenomena saham berkapitalisasi jumbo dengan valuasi tinggi, isu fundamental emiten, struktur free float, minimnya IPO hingga arah kebijakan pengembangan emiten yang disebut sebagai proyek “mercusuar”.
Tulisan itu juga mempertanyakan kondisi pasar pencatatan saham tahun ini yang disebutkan bahwa jumlah perusahaan yang masuk bursa dinilai sangat minim dibanding potensi ekonomi Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara.
Analis Ekonomi Politik Pasar Saham, Kusfiardi menilai keresahan investor di pasar saham saat ini tidak muncul dari ruang kosong. Menurutnya, isu minimnya pencatatan emiten baru memang layak menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan fungsi strategis pasar modal terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
“Pertanyaan sederhananya, sejak awal tahun sampai sekarang berapa banyak calon emiten baru yang benar-benar berhasil masuk pasar? Kalau laju IPO tersendat, itu tentu memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas ekosistem pencatatan,” ujarnya, Sabtu (23/5).
Kusfiardi menilai kondisi tersebut perlu dicermati karena pemerintah saat ini sedang mendorong percepatan investasi, hilirisasi, industrialisasi dan perluasan pembiayaan sektor riil. Dalam konteks itu, pasar modal seharusnya menjadi salah satu instrumen utama penyedia modal jangka panjang.
“Kalau pertumbuhan ekonomi didorong agresif tetapi saluran pembiayaan melalui pasar modal tidak berkembang secepat itu, akan muncul ketidakselarasan. Bursa semestinya menjadi pintu masuk perusahaan bertumbuh, bukan hanya arena perdagangan saham yang sudah ada,” katanya.
Menurutnya fenomena “saham mercusuar” merupakan kebijakan fatal SRO pasar modal, pasalnya meskipun pasar membutuhkan kapitalisasi besar, tetapi pertumbuhan nilai perusahaan idealnya ditopang kualitas bisnis, tata kelola dan likuiditas yang kuat.
“Pasar modal tidak cukup dibangun hanya dengan ukuran kapitalisasi. Yang dicari investor juga kualitas pendapatan, transparansi dan daya tahan model bisnis. Kalau persepsi publik mulai menganggap pasar terlalu bertumpu pada euforia valuasi, itu bisa memengaruhi kepercayaan,” katanya.
Ramainya tulisan tersebut menunjukkan adanya kegelisahan yang berkembang di kalangan investor ritel terkait arah pasar dalam beberapa waktu terakhir. Di tengah volatilitas yang masih terjadi, perdebatan mengenai kualitas pertumbuhan pasar modal diperkirakan akan terus menjadi perhatian publik. ***



