LENTERAMERAH – Isu keamanan di kawasan Eurasia kembali memanas setelah Presiden Belarus Alexander Lukashenko memperingatkan Moldova agar tidak kehilangan kedaulatannya di tengah meningkatnya orientasi pro-Barat pemerintahan Chisinau.
Peringatan tersebut disampaikan Lukashenko saat bertemu mantan Presiden Moldova Igor Dodon pada 26 Mei. Dalam pertemuan itu, Lukashenko mengaku khawatir mendengar berbagai wacana mengenai masa depan Moldova dan kemungkinan negara tersebut “menjadi bagian dari negara lain”.
Meski tidak menyebut Transnistria secara langsung, pernyataan tersebut langsung dikaitkan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di wilayah separatis pro-Rusia tersebut.
Konflik Beku yang Belum Selesai
Transnistria adalah wilayah separatis di dalam perbatasan Moldova yang memisahkan diri setelah runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an.
Wilayah sempit yang berada di sepanjang Sungai Dniester itu hingga kini masih memiliki pemerintahan sendiri dan dijaga oleh pasukan penjaga perdamaian Rusia.
Bagi Moskwa, keberadaan Transnistria menjadi salah satu instrumen strategis untuk mempertahankan pengaruh di Moldova. Sementara bagi pemerintah pro-Barat di Chisinau, wilayah tersebut menjadi hambatan besar dalam proses integrasi penuh ke Uni Eropa maupun NATO.
Kekhawatiran Baru di Kawasan Eurasia
Belarus dan Rusia khawatir perubahan arah politik Moldova dapat memicu instabilitas baru seperti yang terjadi di Ukraina.
Lukashenko dalam beberapa kesempatan juga menyinggung pentingnya menjaga “kedamaian dan ketenangan” di Moldova, sebuah frasa yang dipahami sebagai pesan agar pemerintah Moldova tidak memicu konfrontasi baru terkait Transnistria.
Ketegangan semakin sensitif karena wilayah tersebut berada di jalur strategis antara Ukraina dan Eropa Timur.
Rusia Masih Punya Pengaruh Strategis
Pertemuan Lukashenko dengan Igor Dodon dinilai sebagai sinyal bahwa blok Eurasia masih memiliki kepentingan besar di Moldova.
Dodon selama ini dikenal sebagai tokoh pro-Rusia yang menolak agenda integrasi penuh ke Barat dan mempertahankan hubungan dekat dengan Moskwa.
Di sisi lain, Presiden Moldova Maia Sandu terus mempercepat hubungan dengan Uni Eropa dan memperkuat kerja sama keamanan dengan Barat.
Situasi tersebut membuat Moldova kembali menjadi salah satu titik sensitif dalam persaingan geopolitik antara Rusia dan Barat di kawasan Eropa Timur. ***




