LENTERAMERAH – Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan Amerika Serikat memahami akar konflik Ukraina, tetapi hingga kini belum menunjukkan langkah nyata untuk mengubah situasi di lapangan. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan harian Izvestia di sela St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026 pada 4 Juni.
Lavrov mengatakan hampir satu tahun setelah pertemuan Anchorage, Moskow belum melihat kemajuan berarti dalam proses penyelesaian konflik. Menurutnya, dialog dengan Washington masih berada dalam situasi yang menyerupai lingkaran setan.
Akar Konflik Ukraina
Menurut Lavrov, Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara Barat yang setidaknya mengakui keberadaan akar konflik Ukraina. Ia merujuk pada persoalan keamanan Rusia yang, menurut Moskow, muncul akibat upaya membawa Ukraina ke dalam NATO.
Namun pengakuan tersebut dinilai belum diikuti tindakan politik yang konkret. Lavrov mengatakan Washington sejauh ini belum menunjukkan keinginan untuk mengonsolidasikan kesepakatan dengan Kiev maupun meyakinkan negara-negara Eropa agar tidak menghambat proses yang sedang dibahas.
Ia juga menyebut utusan khusus Presiden AS Steve Witkoff dan pengusaha Jared Kushner menunjukkan ketertarikan untuk memperbaiki hubungan dengan Rusia. Meski demikian, upaya tersebut menurutnya belum menghasilkan perubahan yang nyata.
Kritik terhadap Eropa dan NATO
Lavrov menilai sejumlah negara Eropa tidak memiliki kepentingan untuk mendukung penyelesaian yang dapat mengurangi pengaruh mereka terhadap Kiev. Ia bahkan menyebut pemerintahan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sebagai rezim yang tetap ingin dipertahankan dalam orbit politik Barat.
Menteri luar negeri Rusia itu juga mengkritik pernyataan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengenai masa depan Ukraina di dalam aliansi militer tersebut. Menurutnya, sikap itu mencerminkan keinginan Eropa untuk tetap menentukan arah penyelesaian konflik.
Dalam wawancara tersebut, Lavrov kembali menuduh Barat selama bertahun-tahun mendukung proyek geopolitik yang bertujuan membatasi dan melemahkan Rusia. Ia juga menilai proses integrasi Ukraina ke dalam struktur Barat tidak dapat dipisahkan dari strategi yang lebih luas terhadap Moskow.
Ukraina dan Persaingan Global
Selain membahas Ukraina, Lavrov menghubungkan konflik tersebut dengan dinamika geopolitik yang lebih luas. Ia mengkritik kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang menurutnya sering berada di luar kerangka hukum internasional.
Lavrov juga menyinggung situasi Iran, Venezuela, Armenia, dan Georgia. Menurutnya, berbagai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa persaingan antara kekuatan-kekuatan besar masih menjadi faktor utama yang membentuk hubungan internasional saat ini.
Ia menegaskan bahwa pencapaian tujuan operasi militer Rusia di Ukraina akan memperkuat posisi Moskow di panggung internasional dan mempengaruhi keseimbangan kekuatan global dalam jangka panjang. ***




