LENTERAMERAH – Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menghadapi kontroversi setelah laporan investigasi Euractiv mengungkap pernyataan yang ia sampaikan dalam pertemuan tertutup dengan pejabat Meksiko.
Menurut dokumen yang diperoleh Euractiv, Kallas membandingkan perlakuan Israel terhadap warga Palestina dengan sistem apartheid yang pernah diterapkan di Afrika Selatan.
Pernyataan tersebut dilaporkan muncul dalam diskusi tertutup saat kunjungan delegasi senior Uni Eropa ke Meksiko.
Disampaikan dalam Pertemuan Tertutup
Menurut laporan Euractiv, Kallas menceritakan pengalamannya mengunjungi Apartheid Museum di Johannesburg, Afrika Selatan.
Dalam pembicaraan itu, ia kemudian menarik perbandingan antara sistem segregasi rasial pada era apartheid dengan situasi yang dihadapi warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat.
Laporan tersebut segera memicu perhatian di kalangan diplomatik Brussels karena isu Israel dan Palestina selama ini menjadi salah satu topik paling sensitif dalam kebijakan luar negeri Uni Eropa.
Picu Reaksi di Kalangan Diplomat
Sejumlah diplomat Uni Eropa yang dikutip Euractiv menilai perbandingan tersebut tidak mencerminkan posisi resmi blok tersebut.
Uni Eropa selama ini mendukung solusi dua negara dan secara rutin mengkritik perluasan permukiman Israel di wilayah Palestina. Namun, penyamaan Israel dengan rezim apartheid Afrika Selatan bukan bagian dari kebijakan resmi Uni Eropa.
Seorang diplomat senior Uni Eropa yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Euractiv bahwa pernyataan semacam itu dapat menimbulkan persoalan diplomatik serius jika disampaikan oleh pejabat tertinggi kebijakan luar negeri blok tersebut.
Kantor Kallas Belum Memberikan Klarifikasi
Menurut Euractiv, kantor Kaja Kallas menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut.
Belum ada konfirmasi resmi yang membenarkan maupun membantah isi dokumen yang menjadi dasar investigasi tersebut.
Di sisi lain, beberapa organisasi komunitas Yahudi di Eropa dilaporkan mengkritik keras pernyataan yang dikaitkan dengan Kallas dan menilai penggunaan istilah apartheid terhadap Israel berpotensi memperburuk ketegangan politik yang sudah ada.
Muncul di Tengah Tekanan terhadap EEAS
Kontroversi ini muncul ketika European External Action Service (EEAS), badan diplomatik Uni Eropa yang dipimpin Kallas, sedang menghadapi berbagai kritik internal.
Menurut laporan Euractiv, sejumlah diplomat dan pejabat Uni Eropa mempertanyakan efektivitas badan tersebut dalam menghadapi berbagai krisis internasional yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Laporan yang sama menyebut kontroversi terbaru ini berpotensi menambah tekanan politik terhadap Kallas di tengah meningkatnya perbedaan pandangan di dalam Uni Eropa mengenai perang Gaza dan hubungan dengan Israel. ***




