LENTERAMERAH – Banyak pemilik rumah langsung memperhatikan besarnya cicilan bulanan ketika suku bunga naik. Namun dampak terbesar dari kenaikan bunga KPR sebenarnya bukan pada tagihan bulanan, melainkan pada total biaya yang harus dibayar hingga kredit lunas.
Simulasi KPR senilai Rp1 miliar dengan tenor 20 tahun menunjukkan bagaimana kenaikan bunga yang terlihat kecil dapat menghasilkan tambahan biaya yang sangat besar dalam jangka panjang.
Dalam simulasi tersebut, bunga floating naik dari 11 persen menjadi 11,75 persen setelah penyesuaian mengikuti arah kenaikan suku bunga.
Cicilan Naik, Tetapi Itu Bukan Masalah Terbesarnya
Kenaikan bunga tersebut membuat cicilan bulanan meningkat sekitar Rp440 ribu. Artinya, cicilan yang sebelumnya sekitar Rp9,7 juta per bulan berubah menjadi lebih dari Rp10,1 juta per bulan.
Bagi sebagian keluarga, tambahan hampir setengah juta rupiah setiap bulan tentu cukup terasa. Namun angka itu sebenarnya hanya sebagian kecil dari dampak keseluruhan.
Tambahan Biaya Bisa Mendekati Rp90 Juta
Jika dihitung hingga akhir masa kredit, total bunga yang dibayarkan debitur meningkat secara signifikan. Dalam simulasi tersebut, total bunga yang harus dibayar naik dari sekitar Rp1,19 miliar menjadi sekitar Rp1,28 miliar.
Dengan kata lain, kenaikan bunga sebesar 0,75 persen dapat membuat debitur mengeluarkan tambahan biaya hampir Rp90 juta selama masa pinjaman.
Jumlah tersebut setara dengan harga sebuah mobil bekas, uang muka rumah baru, atau dana pendidikan yang tidak sedikit bagi banyak keluarga.
Mengapa Selisihnya Bisa Sebesar Itu?
Penyebabnya terletak pada tenor KPR yang sangat panjang. Kredit rumah umumnya berlangsung 15 hingga 25 tahun. Kenaikan bunga yang terlihat kecil akan terus dihitung setiap bulan selama bertahun-tahun.
Karena itu, tambahan biaya yang awalnya hanya ratusan ribu rupiah per bulan dapat berubah menjadi puluhan juta rupiah ketika diakumulasi hingga akhir masa kredit.
Banyak Debitur Tidak Menyadarinya
Sebagian besar nasabah lebih fokus pada kemampuan membayar cicilan setiap bulan. Padahal ketika bunga naik, bukan hanya cicilan yang bertambah. Total biaya kepemilikan rumah juga ikut meningkat karena porsi pembayaran bunga menjadi lebih besar.
Akibatnya, uang yang dibayarkan ke bank selama masa kredit bisa jauh lebih tinggi dibandingkan harga rumah saat pertama kali dibeli.
Menghitung Ulang Rencana Keuangan
Kenaikan BI Rate menjadi pengingat bahwa suku bunga tidak selalu berada pada level rendah. Bagi debitur yang telah memasuki masa bunga floating, memahami dampak jangka panjang kenaikan bunga menjadi semakin penting.
Sebab dalam kredit berjangka panjang seperti KPR, selisih bunga yang tampak kecil hari ini dapat berubah menjadi tambahan biaya puluhan juta rupiah di kemudian hari. ***



