Mengapa Iran Tidak Membalas Serangan Israel di Beirut

Iran menjelaskan alasan tidak merespons serangan Israel di Beirut Selatan melalui pernyataan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.
Mohammad Bagher Ghalibaf menjelaskan kebijakan Iran terkait Lebanon dan Israel.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut negosiasi dapat menghasilkan keuntungan lebih besar dibanding respons militer terhadap serangan Israel.

LENTERAMERAH – Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menjelaskan alasan negaranya tidak merespons secara militer ketika Israel kembali melancarkan serangan ke Dahiyeh, Beirut Selatan, di tengah implementasi Memorandum of Understanding (MoU) antara Iran dan Amerika Serikat.

Penjelasan tersebut disampaikan Ghalibaf dalam sebuah wawancara yang beredar luas pada 20 Juni 2026. Dalam wawancara itu, ia menjawab pertanyaan mengenai manfaat yang diperoleh Iran dari keputusan untuk tidak melakukan pembalasan langsung.

Menurut Ghalibaf, tujuan utama Iran bukan sekadar memberikan respons militer, melainkan mencapai sasaran strategis yang lebih besar melalui berbagai instrumen, termasuk diplomasi dan negosiasi.

Iran Lebanon dan Strategi Jangka Panjang

Dalam wawancara tersebut, Ghalibaf mengatakan bahwa suatu negara dapat mencapai tujuannya melalui perang maupun perundingan, tergantung situasi yang dihadapi.

Ia mengakui bahwa Iran sebelumnya menyatakan akan memberikan respons atas serangan Israel. Namun menurutnya, terdapat situasi ketika jalur negosiasi menghasilkan keuntungan yang lebih besar dibanding tindakan militer langsung.

“Kami mengatakan akan merespons, tetapi kami tidak melakukannya. Itu adalah contoh ketika pembicaraan menghasilkan lebih banyak daripada pertempuran,” kata Ghalibaf dalam wawancara yang dibagikan akun Iran Screenshot.

MoU dan Front Lebanon

Pernyataan tersebut muncul ketika implementasi MoU Iran-AS masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait Lebanon.

Dalam beberapa hari terakhir, pejabat Iran berulang kali menegaskan bahwa penghentian konflik di Lebanon merupakan bagian dari kesepakatan yang dicapai dengan Washington. Namun Israel tetap melanjutkan operasi terhadap Hezbollah di wilayah Lebanon selatan.

Situasi itu memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana Iran akan merespons jika serangan terhadap wilayah yang menjadi basis Hezbollah terus berlanjut.

Kemenangan Harus Menjadi Dokumen Politik

Ghalibaf juga menekankan bahwa kemenangan militer tidak memiliki nilai historis maupun praktis apabila tidak menghasilkan kesepakatan politik dan hukum yang mengikat.

Menurutnya, perang hanya menjadi sarana untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Hasil akhir yang menentukan adalah kemampuan mengubah dinamika di lapangan menjadi dokumen politik yang dapat memberikan manfaat konkret.

Pernyataan tersebut sejalan dengan posisi sejumlah pejabat Iran lainnya yang dalam beberapa pekan terakhir menempatkan implementasi MoU, pembicaraan lanjutan dengan Amerika Serikat, serta penghentian konflik di Lebanon sebagai prioritas utama diplomasi Teheran. ***