LENTERAMERAH – Kasus yang menimpa seorang wanita di Chelyabinsk menunjukkan bahwa modus penipuan kini tidak lagi berhenti pada pencurian uang korban. Setelah berhasil memperoleh 40 ribu rubel atau sekitar Rp7,9 juta, komplotan penipu justru membujuk korban membakar apartemennya sendiri dengan iming-iming pembayaran klaim asuransi.
Menurut pemberitaan Komsomolskaya Pravda, pelaku terus berkomunikasi melalui telepon dan memberikan instruksi secara bertahap. Korban diminta menyalakan api di atas tempat tidur sambil menyiarkan kejadian tersebut melalui grup percakapan penghuni apartemen sebagai bukti bahwa perintah telah dijalankan.
Korban Dibuat Sulit Berpikir Jernih
Pakar keamanan siber menyebut pola seperti ini merupakan bentuk manipulasi psikologis yang dilakukan secara bertahap. Korban terlebih dahulu dibuat mengalami kerugian finansial, kemudian diyakinkan bahwa satu-satunya cara mendapatkan uangnya kembali adalah mengikuti seluruh arahan pelaku.
Strategi tersebut dikenal sebagai sunk cost fallacy, yaitu kondisi ketika seseorang terus mengikuti keputusan yang keliru karena merasa sudah terlanjur kehilangan banyak hal. Dalam kasus ini, korban diyakinkan bahwa kebakaran yang disengaja akan berujung pada pembayaran uang asuransi.
Penipu Mengendalikan Korban Lewat Telepon
Selama menjalankan aksinya, korban terus menerima arahan dari pelaku. Bahkan ketika api mulai membesar, penipu meminta korban tetap berada di dalam apartemen selama lima menit dan meyakinkannya bahwa situasi akan tetap aman.
Instruksi yang terus diberikan secara langsung membuat korban tidak memiliki kesempatan untuk berkonsultasi dengan keluarga, tetangga, atau berpikir secara kritis. Teknik seperti ini kerap digunakan pelaku penipuan agar korban tetap berada di bawah kendali mereka hingga seluruh rencana selesai dijalankan.
Dari Korban Menjadi Tersangka
Selain kehilangan uang, korban kini juga menghadapi persoalan hukum akibat kebakaran yang ditimbulkannya. Kebakaran tersebut memaksa petugas mengevakuasi 10 penghuni gedung apartemen dan menyebabkan satu unit mengalami kerusakan parah.
Kasus yang diungkap Komsomolskaya Pravda ini menjadi peringatan bahwa penipuan modern tidak lagi hanya menyasar rekening korban. Dalam beberapa kasus, pelaku berusaha mengendalikan tindakan korbannya hingga melakukan perbuatan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain. ***



