NASA Waspadai Bintik Matahari ‘Behemoth’, Ilmuwan Rusia Minta Publik Tetap Tenang

Bintik Matahari raksasa yang dijuluki Behemoth menjadi perhatian setelah NASA memperingatkan potensi suar kelas X, sementara ilmuwan Rusia menilai situasinya belum mengkhawatirkan.
Bintik Matahari raksasa Behemoth menghadap Bumi.
Bintik Matahari raksasa yang dijuluki Behemoth menjadi perhatian setelah NASA memperingatkan potensi suar kelas X, sementara ilmuwan Rusia menilai situasinya belum mengkhawatirkan.

LENTERAMERAH – Bintik Matahari raksasa yang dijuluki “Behemoth” menjadi perhatian para ilmuwan setelah terus membesar dan kini mulai menghadap ke Bumi. Menurut laporan Komsomolskaya Pravda yang mengutip NASA dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), gugusan bintik Matahari tersebut berpotensi memicu suar Matahari (solar flare) berkekuatan ekstrem kelas X dalam beberapa hari ke depan.

Laporan tersebut menyebut area aktif bernomor 4473 telah menghasilkan empat suar kelas M dalam dua hari berturut-turut dengan kekuatan yang terus meningkat. Pada malam 21 Juni, salah satu ledakan bahkan hampir mencapai kategori X, yaitu kelas tertinggi dalam klasifikasi suar Matahari. Sejak pertama kali terdeteksi pada 16 Juni, ukuran bintik “Behemoth” dilaporkan telah membesar hingga sekitar 10 kali lipat.

NASA dan Rusia Berbeda Penilaian

NASA dan NOAA menilai konfigurasi magnetik bintik Matahari tersebut berpotensi menghasilkan suar kelas X yang dapat memicu badai geomagnetik apabila disertai lontaran massa korona (CME) yang mengarah ke Bumi. Dalam klasifikasi ilmiah, suar kelas X merupakan jenis ledakan Matahari paling kuat dan dapat mengganggu komunikasi radio frekuensi tinggi, sistem navigasi satelit, hingga operasional wahana antariksa.

Namun, pandangan berbeda disampaikan Laboratorium Astronomi Surya Institut Penelitian Antariksa Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia (IKI RAN). Menurut lembaga tersebut, aktivitas Matahari memang sedang meningkat, tetapi hingga kini belum menjadi faktor utama cuaca antariksa dan masih lebih bernilai sebagai data statistik ilmiah daripada ancaman langsung bagi Bumi.

Dampaknya Bergantung Arah Ledakan

Perbedaan penilaian tersebut muncul karena kedua pihak menggunakan pendekatan yang berbeda. NASA lebih menitikberatkan pada potensi maksimum berdasarkan kompleksitas medan magnet bintik Matahari, sedangkan ilmuwan Rusia menilai arah lontaran plasma menjadi faktor yang menentukan apakah Bumi benar-benar akan terdampak.

Apabila ledakan besar terjadi tanpa CME yang mengarah ke Bumi, dampaknya diperkirakan relatif kecil. Sebaliknya, jika CME menghantam magnetosfer Bumi, konsekuensinya dapat berupa gangguan komunikasi radio, peningkatan risiko terhadap satelit, hingga munculnya badai geomagnetik yang memungkinkan aurora terlihat di wilayah lintang yang lebih rendah. ***