LENTERAMERAH – Tingginya harga daging sapi di pasar domestik dan masih besarnya ketergantungan Indonesia terhadap impor menjadi tantangan bagi industri pangan nasional. Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha untuk membangun rantai pasok yang lebih efisien agar pasokan tetap terjaga sekaligus mampu mengendalikan biaya operasional.
Data pada awal Juli 2026 menunjukkan harga daging sapi kualitas 1 di DKI Jakarta masih menjadi yang tertinggi secara nasional. Sementara itu, Australia masih menjadi pemasok utama sapi hidup dan daging sapi bagi Indonesia. Situasi tersebut membuat industri rentan terhadap fluktuasi nilai tukar, biaya logistik, maupun dinamika perdagangan internasional.
Direktur Utama PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK) Agus Suhada mengatakan efisiensi rantai pasok menjadi salah satu faktor utama dalam meningkatkan daya saing bisnis, khususnya pada segmen frozen meat dan frozen processing food. Menurutnya, pengelolaan distribusi yang terintegrasi menjadi kunci untuk menjaga kualitas produk sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
“Kami melihat tantangan industri saat ini tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan baku, tetapi juga bagaimana memastikan produk dapat didistribusikan secara efisien dengan kualitas yang tetap terjaga hingga ke tangan konsumen. Karena itu, penguatan rantai pasok menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan bisnis frozen meat Perseroan,” ujar Agus, Jumat (17/7).
Menurutnya, keberhasilan bisnis produk beku tidak hanya ditentukan oleh kualitas bahan baku. Keberhasilan juga bergantung pada kemampuan menjaga kualitas produk sejak proses pengadaan, penyimpanan, hingga distribusi kepada pelanggan.
Efisiensi pada setiap tahapan tersebut dinilai penting untuk menjaga mutu produk, menekan potensi food loss, sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan.
Komitmen tersebut tercermin dalam pengembangan lini usaha frozen meat yang kini menjadi salah satu motor pertumbuhan baru Perseroan. Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 14 Juli 2026, TGUK menjelaskan bahwa peningkatan penjualan pada kuartal I 2026 didorong oleh mulai beroperasinya lini bisnis perdagangan daging beku (frozen meat). Permintaan yang meningkat selama Ramadan dan Idulfitri turut mendukung pertumbuhan tersebut.
Perseroan juga memperluas jaringan pemasaran melalui agen dan distributor. Upaya tersebut didukung fasilitas cold storage berkapasitas hingga 1.000 ton untuk menjaga kualitas produk sekaligus memperkuat efisiensi pengelolaan rantai pasok.
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, Perseroan tengah mempersiapkan rencana memulai kegiatan impor daging pada 2027. Langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat kesinambungan pasokan bahan baku sekaligus meningkatkan efisiensi biaya pengadaan.
“Kami meyakini keberhasilan bisnis frozen meat tidak hanya ditentukan oleh kapasitas penjualan, tetapi juga oleh kemampuan membangun rantai pasok yang efisien dan berkelanjutan. Karena itu, kami mempersiapkan rencana impor daging pada 2027 sebagai bagian dari strategi memperkuat pasokan bahan baku, meningkatkan efisiensi biaya pengadaan, serta mendukung pertumbuhan bisnis Perseroan dalam jangka panjang,” tambah Agus.
Ke depan, TGUK akan memfokuskan pengembangan bisnis pada optimalisasi distribusi, penguatan rantai pasok, peningkatan efisiensi operasional, serta peningkatan profitabilitas. Perseroan menilai langkah tersebut akan memperkuat fondasi bisnis frozen meat dan frozen processing food sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan di tengah dinamika industri pangan nasional. ***




