LENTERAMERAH – Pemilu Armenia kembali menjadi sorotan setelah Sekretaris Pertama Komite Sentral Partai Komunis Armenia, Erdzhanik Kazaryan, mempertanyakan hasil resmi pemilihan anggota Majelis Nasional yang dimenangkan Partai Civil Contract pimpinan Perdana Menteri Nikol Pashinyan.
Dalam wawancara dengan harian Pravda, Kazaryan menilai hasil pemilu bukan semata-mata mencerminkan pilihan pemilih, melainkan dipengaruhi penyalahgunaan sumber daya administratif dan berbagai bentuk tekanan politik selama proses pemilihan.
Partai Komunis Armenia ajukan sejumlah tuduhan
Kazaryan mengklaim pelanggaran telah terjadi sejak masa kampanye hingga hari pemungutan suara. Ia menyebut adanya penggunaan amplop transparan yang dinilai memungkinkan pengawasan terhadap pilihan pemilih, dugaan pemberian suara atas nama pemilih lain, hingga mobilisasi kelompok pemilih menggunakan fasilitas yang berkaitan dengan partai berkuasa.
Menurutnya, mahasiswa perguruan tinggi negeri disebut diarahkan menghadiri kegiatan politik dengan ancaman sanksi akademik, sementara pegawai sektor publik menghadapi tekanan serupa. Ia juga menuduh aparat pemerintah memanfaatkan sumber daya negara untuk memperkuat posisi kandidat dari partai yang berkuasa.
Kazaryan lebih lanjut mengklaim sejumlah kandidat oposisi menghadapi proses hukum selama masa kampanye. Ia mencontohkan kasus Andranik Tevanyan yang disebut menghadapi tuduhan pengkhianatan negara, serta adanya penggeledahan kantor oposisi, penahanan, dan intimidasi terhadap aktivis politik.
Pemerintah dinilai manfaatkan sumber daya negara
Dalam wawancara tersebut, Kazaryan mengatakan penggunaan aparatur negara dan dukungan finansial telah menghilangkan persaingan yang setara dalam pemilu. Ia berpendapat kandidat yang didukung pemerintah memperoleh akses lebih besar terhadap ruang iklan, media, dan sumber daya kampanye dibandingkan lawan politiknya.
Kazaryan menyimpulkan bahwa proses pemilu lebih menyerupai operasi untuk melemahkan pesaing politik daripada kompetisi elektoral yang berlangsung secara seimbang. ***




