PER SWAP Nyaris 100 Kali, Analis Nilai Valuasinya Agresif

PER SWAP nyaris 100 kali menjadi sorotan karena perseroan masih mencatat rugi operasional dan arus kas operasi negatif.
Valuasi IPO SWAP mencapai 97–105 kali laba bersih 2025. Analis menyoroti rugi operasi, arus kas negatif dan kualitas piutang.

LENTERAMERAH –  PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP) masih dalam masa book building hingga hari ini, 27 Agustus 2026 dengan menawarkan saham dalam IPO pada kisaran Rp130–Rp140 per saham. 

Dengan rentang harga tersebut, valuasi perseroan mencapai sekitar 97–105 kali laba bersih 2025, sementara laba operasional masih tercatat negatif Rp2,18 miliar.

Kondisi tersebut membuat valuasi SWAP menjadi perhatian investor. Fauzan Luthsa, Analis Strategi Institute, menilai persoalannya bukan sekadar apakah harga IPO terlihat murah atau mahal, melainkan apakah kinerja bisnis perseroan sudah mampu menopang valuasi tersebut.

“Cerita pertumbuhan SWAP memang menarik. Perseroan membawa nama UGM, menawarkan hilirisasi hasil riset, serta memiliki sejumlah pipeline alat kesehatan yang berpotensi membuka pasar baru. Namun, bagi investor pasar modal, yang paling fundamental adalah kemampuan menghasilkan laba dari bisnisnya sendiri.”

SWAP memang membukukan laba bersih Rp1,42 miliar pada 2025. Namun, pada tingkat operasional perseroan masih membukukan rugi sekitar Rp2,18 miliar.

Bagi Fauzan, perbedaan tersebut membuat kualitas laba menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.

“Saya melihat SWAP bukan sekadar persoalan apakah saham ini mahal atau murah. Yang lebih fundamental adalah kualitas labanya. Perseroan sudah mencatat laba bersih, tetapi bisnis operasionalnya masih rugi. Jadi investor sebenarnya belum membeli earning power yang sudah terbukti, melainkan membeli ekspektasi bahwa pipeline produk SWAP nantinya bisa dikomersialisasikan dan menghasilkan laba,” ujar Fauzan.

Valuasi tersebut semakin agresif ketika dibandingkan dengan kemampuan SWAP menghasilkan laba. Pada harga Rp130–Rp140 per saham, PER perseroan berada di kisaran 97–105 kali berdasarkan laba bersih 2025.

Bagi saham growth, multiple tinggi masih dapat diterima apabila pertumbuhan laba ke depan mampu mengejar valuasi. Persoalannya, SWAP saat ini masih harus membuktikan pertumbuhan tersebut.

“Kalau perusahaan sudah profitable dan arus kasnya kuat, investor mungkin bisa memberikan premium untuk growth. Tetapi SWAP saat ini masih harus membuktikan dua hal sekaligus, yakni produk barunya bisa menjadi sumber pertumbuhan dan bahwa pertumbuhan tersebut nantinya benar-benar masuk ke laba dan kas perusahaan,” katanya.

Ia melihat tekanan fundamental juga terlihat dari arus kas operasi. Pada 2024, arus kas dari aktivitas operasi SWAP tercatat negatif Rp1,64 miliar. Angka tersebut memburuk menjadi negatif Rp3,36 miliar pada 2025.

Memasuki dua bulan pertama 2026, arus kas operasi masih negatif Rp2,28 miliar atau memburuk sekitar 77 persen secara tahunan.

Dengan demikian, persoalannya bukan hanya laba operasional yang masih negatif. Kas yang dihasilkan dari kegiatan operasi juga belum positif.

Kualitas piutang menjadi persoalan berikutnya. Piutang usaha bruto SWAP sekitar Rp11,9 miliar, tetapi sekitar Rp11,15 miliar telah dicadangkan sebagai kerugian penurunan nilai. Piutang bersih perseroan dengan demikian hanya sekitar Rp752 juta.

“Ini menunjukkan bahwa risiko SWAP bukan hanya soal apakah perusahaan mampu menjual produk, tetapi apakah penjualan tersebut bisa dikonversi menjadi kas yang benar-benar tertagih. Jadi saya akan melihat SWAP sebagai high-risk growth story, bukan sebagai saham sektor kesehatan yang sudah memiliki karakter defensif,” ujar Fauzan.

Investor juga perlu memperhatikan penggunaan dana IPO. Dari potensi penghimpunan dana sekitar Rp45,22 miliar, sekitar Rp12 miliar atau 26,5 persen dialokasikan untuk pembayaran utang.

Sebagian kewajiban tersebut merupakan utang kepada pihak berelasi, termasuk GMUM dan Yayasan UGM.

Penggunaan dana tersebut membuat persoalan alokasi modal ikut masuk dalam penilaian IPO SWAP. Sebagian dana yang dihimpun dari investor publik tidak seluruhnya diarahkan untuk ekspansi, melainkan digunakan untuk menyelesaikan kewajiban perseroan.

Pada saat yang sama, SWAP masih membawa jejak bisnis sebelumnya, termasuk legacy GeNose. Bagi investor, rekam jejak tersebut penting ketika menilai seberapa efektif perseroan mengubah pengembangan produk dan investasi riset menjadi pendapatan, laba dan kas.

SWAP tetap memiliki sejumlah katalis pertumbuhan melalui pipeline produk alat kesehatan dan hilirisasi hasil riset. Namun, pada saat IPO, pasar sudah memberikan valuasi yang sangat tinggi dibandingkan laba yang telah dihasilkan. ***