LENTERAMERAH – Pada akhir 1980-an, India membutuhkan superkomputer untuk memperkuat kemampuan komputasinya, termasuk untuk prakiraan cuaca dan riset ilmiah. Amerika Serikat memiliki teknologi yang dibutuhkan India, tetapi Washington menolak menjual mesin yang diminta dan menawarkan sistem yang lebih lemah dengan sejumlah pembatasan.
Amerika Serikat menganggap superkomputer sebagai teknologi penggunaan ganda. Kemampuan komputasi tinggi dapat digunakan untuk riset sipil, tetapi juga membantu simulasi nuklir dan pengembangan teknologi militer. Setelah India melakukan uji coba nuklir pada 1974, Washington semakin memperketat akses New Delhi terhadap teknologi semacam itu.
Pada 1987, Amerika Serikat menolak memberikan model Cray yang diinginkan India. Sebagai gantinya, Washington menawarkan sistem yang lebih terbatas dengan syarat penggunaan sipil, larangan transfer teknologi, larangan re-ekspor dan pengawasan terhadap penggunaan mesin oleh pejabat Amerika yang ditempatkan di India.
India menolak persyaratan tersebut.
Perdana Menteri Rajiv Gandhi kemudian meminta ilmuwan India Vijay Bhatkar untuk mencari jalan keluar. Ia mengajukan tiga pertanyaan kepada Bhatkar. Apakah India bisa membuat superkomputer sendiri, berapa lama waktunya, dan berapa biayanya.
Bhatkar menjawab bahwa India bisa melakukannya dalam waktu kurang dari tiga tahun dan dengan biaya yang lebih rendah daripada membeli mesin Amerika. Pada saat itu ia bahkan belum pernah melihat superkomputer secara langsung. Ia hanya pernah melihat foto Cray.
Pada Maret 1988, pemerintah India membentuk Centre for Development of Advanced Computing atau C-DAC di Pune dan menunjuk Bhatkar sebagai direktur pendiri. Proyek tersebut memperoleh anggaran sekitar 30 crore rupee dengan target penyelesaian tiga tahun.
Awalnya proyek tersebut berjalan jauh dari mulus. Bhatkar kemudian menceritakan bahwa selama enam bulan pertama ia bahkan kesulitan merekrut staf karena hambatan birokrasi.
Tim India memilih pendekatan yang berbeda dari Cray. Alih-alih membangun satu mesin raksasa dengan prosesor tunggal berkemampuan sangat tinggi, mereka menghubungkan banyak prosesor untuk bekerja secara paralel. Pendekatan tersebut memungkinkan India membangun kemampuan komputasi tinggi menggunakan komponen yang dapat diperoleh di pasar, sementara arsitektur sistem dan perangkat lunaknya dikembangkan sendiri.
Prototipe PARAM selesai pada 1990. Nama PARAM berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “tertinggi”.
Masalah berikutnya adalah membuktikan bahwa mesin tersebut benar-benar mampu berfungsi sebagai superkomputer. Bentuknya tidak menyerupai Cray dan bahkan sejumlah akademisi komputer India meragukan kemampuannya.
Bhatkar kemudian membawa PARAM ke forum internasional di Zurich pada 1990 untuk diperagakan dan diuji di hadapan komunitas superkomputer. Setahun kemudian, India menyelesaikan PARAM 8000.
Proyek yang bermula dari penolakan akses teknologi Amerika itu kemudian berkembang menjadi produk yang dapat digunakan di luar India. Pada 1991–1992, sistem PARAM diekspor ke sejumlah negara, termasuk Jerman, Inggris dan Rusia.
Perubahan posisinya sulit diabaikan. India yang sebelumnya datang sebagai negara yang ingin membeli superkomputer Amerika dengan syarat ketat, beberapa tahun kemudian telah membangun sistemnya sendiri dan memasarkannya ke luar negeri.
Kisah PARAM kembali disorot oleh akun X @san_x_m dari Bengaluru, India. Dalam narasi yang dibagikannya, pengalaman tersebut menjadi contoh bagaimana pembatasan akses terhadap teknologi strategis dapat mendorong sebuah negara membangun kemampuan domestiknya sendiri.
Vijay Bhatkar kemudian merangkum filosofi tersebut dalam satu kalimat.
“Great nations are not built on borrowed technology.” ***




