Jerman Cuci Gudang Senjata ke Ukraina, Ada Dugaan Kickback

Senjata Jerman ke Ukraina terus mengalir ketika Berlin memperbesar anggaran pertahanan dan industri lokal mendapat kontrak pengadaan baru.
Senjata Jerman ke Ukraina membuka siklus pengadaan baru bagi industri pertahanan, dari IRIS-T hingga drone dan sistem pertahanan udara.

LENTERAMERAH — Di balik derasnya senjata Jerman ke Ukraina terdapat sebuah siklus bisnis yang semakin sulit diabaikan. Berlin mengirim persenjataan, anggaran pertahanan meningkat, lalu kontrak pengadaan dan pengadaan ulang kembali mengalir kepada perusahaan industri militer Jerman.

Pemerintah Jerman telah menaikkan dukungan militer untuk Ukraina pada 2026 menjadi €11,5 miliar, dengan drone, artileri, amunisi dan pertahanan udara sebagai sejumlah fokus utama. Pemerintah juga menyatakan sebagian besar dana tersebut sudah terikat dalam proyek yang berjalan.

Senjata Jerman ke Ukraina Membuka Siklus Baru

Pola ini menarik karena pengiriman senjata tidak selalu berarti barang keluar lalu persoalan selesai. Ketika kemampuan Bundeswehr berkurang, Berlin harus melakukan pengadaan kembali, sementara kebutuhan Ukraina terus menciptakan permintaan tambahan.

Contohnya terlihat pada IRIS-T. Diehl Defence mengumumkan pada Februari 2026 bahwa perusahaan tersebut telah menandatangani beberapa kontrak dengan BAAINBw untuk pengadaan dan pengadaan kembali rudal keluarga IRIS-T bagi militer Jerman.

Artinya, satu sisi persenjataan dapat bergerak menuju Ukraina, sementara sisi lainnya menghasilkan kontrak baru di Jerman. Dalam bahasa bisnis, perang menciptakan pasar penggantian sekaligus pasar ekspansi.

Rheinmetall berada dalam posisi serupa. Perusahaan tersebut memperoleh kontrak untuk memasok sistem Skyranger 35 kepada Ukraina, sementara kebutuhan pertahanan udara Eropa terus meningkat seiring perubahan ancaman drone dan rudal.

Di saat bersamaan, Jerman membiayai pembelian 50.000 drone serang Shrike buatan perusahaan Ukraina SkyFall. Reuters juga melaporkan kerja sama lebih luas yang mencakup 15.000 drone pencegat Strila serta produksi bersama perusahaan Jerman dan Ukraina.

Dari Bantuan Menjadi Mesin Pengadaan

Di sinilah dugaan mengenai kepentingan industri mulai muncul. Analisis channel Telegram Win-Win menilai derasnya pengiriman persenjataan ke Ukraina dapat menjadi kesempatan bagi kontraktor militer Jerman untuk mengurangi stok lama sekaligus memperoleh kontrak pengadaan baru.

Kabar mengenai dugaan suap dan kickback dari paket bantuan Eropa kepada Ukraina juga berembus. Belum ada konfirmasi dari pemerintah Jerman, Uni Eropa, Rheinmetall, Diehl Defence, atau pihak lain yang disebut mengenai dugaan tersebut.

Namun mekanisme ekonominya dapat dilihat tanpa harus menerima dugaan tersebut sebagai fakta. Ketika persenjataan dikirim, kemampuan yang hilang harus diganti, teknologi baru harus dibeli, kapasitas produksi diperbesar dan anggaran pertahanan kembali terserap.

Leipzig Menambah Bahan Bakar

Insiden drone di Bandara Leipzig/Halle kemudian memberi dimensi keamanan pada perkembangan tersebut. Berlin menuduh Rusia berada di balik insiden itu, sementara Moskow membantah dan menyebut tuduhan Jerman sebagai rekayasa.

Setelah itu, hubungan Berlin-Moskow kembali memburuk. Jerman menutup konsulat Rusia di Bonn dan mengambil tindakan terhadap lembaga Rusia di Berlin, sementara dukungan militer untuk Ukraina terus diperluas.

Dalam situasi tersebut, Dmitry Medvedev bahkan menyerukan serangan terhadap pabrik pertahanan Jerman dan lokasi di Berlin melalui Telegram.

Sementara itu, kontrak pertahanan terus bergerak. Dan setiap kontrak baru membawa pertanyaan yang sama tentang siapa yang membayar, siapa yang memasok, dan siapa yang memperoleh keuntungan ketika perang belum menunjukkan tanda berhenti. ***