LENTERAMERAH — Erupsi Anak Krakatau yang menghasilkan plume hingga sekitar 50.000 kaki atau 15 kilometer memunculkan kemungkinan yang menarik. Ada kemungkinan erupsi Anak Krakatau mendinginkan Bumi jika material vulkanik dalam jumlah cukup besar mencapai lapisan atmosfer atas.
Badan Geologi melaporkan Anak Krakatau mengalami erupsi menerus pada 5 September 2026, disertai suara gemuruh dan semburan merah menyala yang menyerupai lava fountain. Status gunung tersebut masih Level III atau Siaga.
Erupsi ini juga berdampak langsung di permukaan. Menurut laporan Reuters, abu mencapai ketinggian sekitar 50.000 kaki dan menyebabkan ratusan penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta dihentikan sementara.
Mengapa Erupsi Anak Krakatau Bisa Mendinginkan Bumi?
Penjelasannya sebenarnya sederhana. Gunung api tidak hanya mengeluarkan abu, tetapi juga gas sulfur dioksida atau SO₂.
Jika SO₂ dalam jumlah besar mencapai stratosfer, gas tersebut dapat berubah menjadi partikel aerosol sulfat. Partikel sangat kecil ini dapat memantulkan sebagian energi Matahari kembali ke angkasa sehingga energi yang mencapai permukaan Bumi berkurang.
Mekanisme tersebut pernah terjadi setelah letusan Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991. Menurut US Geological Survey, hampir 20 juta ton SO₂ masuk ke stratosfer dan kemudian menyebabkan suhu global turun sekitar 0,5 derajat Celsius untuk sementara.
Pertanyaannya sekarang adalah apakah erupsi Anak Krakatau mendinginkan Bumi dalam skala yang bisa terukur.
Akun X @SunWeatherMan mengatakan plume yang mencapai 50.000 kaki merupakan tanda penting karena material erupsi telah mencapai atmosfer yang sangat tinggi. Akun tersebut juga menyebut erupsi Anak Krakatau saat ini baru sekitar 13 persen dari Pinatubo.
Angka 13 persen tersebut merupakan perkiraan yang disampaikan @SunWeatherMan dan belum merupakan angka resmi Badan Geologi. Yang sudah terkonfirmasi adalah keberadaan plume hingga sekitar 15 kilometer berdasarkan pengamatan yang digunakan dalam pemantauan abu vulkanik.
Kemungkinan pendinginan juga dibicarakan akun X @bryan_maxw46284. Ia mengatakan erupsi besar yang mengirim aerosol ke stratosfer dapat menjadi semacam natural experiment untuk melihat seberapa efektif mekanisme tersebut dalam mendinginkan Bumi.
Namun, tinggi plume bukan satu-satunya ukuran. Penentu utamanya adalah berapa banyak SO₂ yang benar-benar mencapai stratosfer dan kemudian berubah menjadi aerosol yang mampu bertahan cukup lama untuk memengaruhi radiasi Matahari.
Jika aktivitas Anak Krakatau terus meningkat dan injeksi sulfur ke atmosfer atas menjadi jauh lebih besar, kemungkinan efek pendinginan akan semakin menarik untuk diamati. ***




