Bagaimana instrumen Radmetron mendeteksi jenis radiasi yang berbeda

Radiasi alfa, beta, gamma dan neutron membutuhkan pendekatan deteksi berbeda. Instrumen Radmetron menggabungkan sejumlah teknologi sensor sesuai fungsi pengukurannya.
Dari Geiger-Müller hingga CsI dan detektor neutron, teknologi sensor menentukan jenis radiasi yang dapat dicari dan diukur sebuah instrumen.

LENTERAMERAH — Ketika kontaminasi Cesium-137 ditemukan dalam kasus industri di Cikande, Banten, pada 2025, radiasi yang menjadi persoalan tidak dapat dikenali hanya dengan pengamatan biasa. Deteksi membutuhkan instrumen yang mampu menangkap jejak radiasi dan mengubahnya menjadi sinyal yang dapat diukur.

Menurut berbagai sumber yang ditelusuri redaksi, tidak ada satu jenis sensor yang paling tepat untuk seluruh kebutuhan pengukuran radiasi. Karakteristik radiasi, tingkat intensitas dan tujuan pemeriksaan menentukan jenis detektor yang digunakan.

Detektor radiasi Radmetron

Salah satu teknologi yang umum digunakan adalah tabung Geiger-Müller. Detektor ini menghasilkan pulsa listrik ketika radiasi yang masuk memicu ionisasi di dalam tabung. Dalam instrumen tertentu, teknologi tersebut digunakan untuk mengukur laju dosis atau mendeteksi kontaminasi pada permukaan.

Teknologi lain adalah detektor sintilasi. Pada konfigurasi tertentu Radmetron, kristal CsI(Tl) digunakan untuk mendeteksi radiasi foton. Energi radiasi yang masuk menghasilkan kilatan cahaya pada material sintilator, yang kemudian diubah menjadi sinyal untuk dianalisis. Kemampuan tersebut memungkinkan instrumen tidak hanya menunjukkan adanya radiasi, tetapi juga mengumpulkan spektrum gamma untuk membantu identifikasi radionuklida.

Dokumentasi PM1401K-3 menunjukkan kombinasi detektor CsI(Tl) dan GM untuk kanal pengukuran yang berbeda. Perangkat tersebut dirancang untuk mendeteksi dan melokalisasi material radioaktif, mengukur laju dosis gamma dan sinar-X, mengukur kontaminasi permukaan alfa dan beta, serta mengakumulasi spektrum gamma untuk identifikasi radionuklida.

Neutron membutuhkan pendekatan berbeda lagi. Dokumentasi PM1401K-3 versi tertentu mencantumkan detektor He-3 untuk kanal neutron, sedangkan dokumentasi PM1401K-3P yang lebih baru mencantumkan detektor 6LiF/ZnS. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa konfigurasi detektor dapat berubah menurut versi instrumen dan tidak seharusnya digeneralisasi ke seluruh produk Radmetron.

Perbedaan sensor tersebut juga menjelaskan mengapa sebuah instrumen dapat memiliki beberapa kanal sekaligus. PM1401K-3, misalnya, menggabungkan fungsi alarm, pencarian, pengukuran, spektrometri dan identifikasi radionuklida dalam satu perangkat.

Dengan demikian, instrumen deteksi radiasi bukan sekadar alat yang berbunyi ketika menemukan radiasi. Jenis detektor menentukan apa yang dapat dideteksi, bagaimana sinyal diukur dan seberapa jauh informasi tentang sumber radiasi dapat diperoleh. ***