LENTERAMERAH — Tower Base Transceiver Station (BTS) milik Tower Bersama Group (TBG) roboh di kawasan Kembangan Utara dan menimpa rumah warga. Insiden ini memicu sorotan terhadap dugaan kelalaian proyek di tengah permukiman padat.
Tower yang masih dalam tahap pembangunan itu ambruk secara tiba-tiba saat aktivitas proyek berlangsung. Material besi struktur menghantam area hunian di sekitar lokasi.
Dua unit rumah mengalami kerusakan cukup parah setelah tertimpa bagian tower. Sejumlah barang milik warga juga rusak, termasuk televisi dan sepeda motor.
Sejak awal, warga mengaku telah mempertanyakan posisi pembangunan tower yang dinilai terlalu dekat dengan rumah. Mereka menilai proyek tersebut tidak memiliki jarak aman yang memadai.
Kondisi tersebut memunculkan dugaan bahwa aspek keselamatan tidak menjadi pertimbangan utama dalam pelaksanaan proyek. Pembangunan tower di lingkungan padat dinilai seharusnya memiliki standar keamanan yang lebih ketat.
Meski tidak ada korban jiwa, kejadian ini menimbulkan trauma bagi warga. Peristiwa terjadi secara mendadak saat warga berada di sekitar lokasi proyek.
“Pembangunan tower di tengah permukiman padat seperti ini sangat berisiko dan harus dievaluasi,” ujar salah satu warga.
Sekjen JACOBIN (Jaringan Aksi, Kontrol Kebijakan dan Intelijen), Ivan Panusunan, menilai insiden ini menunjukkan kegagalan serius dalam standar keselamatan proyek.
“Sangat ironis melihat korporasi yang mencetak laba triliunan di tahun 2025, TBIG justru gagal memastikan keamanan baut dan fondasi di pemukiman warga. Ini adalah bentuk nyata dari pengabaian standar keselamatan demi mengejar target ekspansi infrastruktur,” ujarnya.
Ia juga mempertanyakan aspek perizinan proyek yang dinilai janggal sejak awal.
“JACOBIN mempertanyakan bagaimana IMB atau PBG bisa terbit untuk menara di lahan sesempit itu? Kami mencium adanya kelalaian atau bahkan kongkalikong dalam verifikasi lapangan. Jika jarak rebah menara saja tidak dihitung, maka dinas terkait di Pemprov DKI dan TBIG turut bertanggung jawab atas trauma warga Kembangan,” tegasnya.
Hingga kini, pihak pengelola proyek maupun Tower Bersama Group belum memberikan penjelasan resmi terkait penyebab robohnya tower maupun mekanisme tanggung jawab atas kerugian warga.
Warga terdampak masih menunggu kejelasan terkait ganti rugi atas kerusakan yang dialami, di tengah meningkatnya sorotan terhadap keselamatan proyek pembangunan di kawasan permukiman padat. ***



