Saham TBIG Menguat Usai Tower BTS Roboh, Lukai Warga di Jakbar

Saham TBIG menguat di tengah insiden tower BTS roboh di Kembangan Utara. JACOBIN menilai terjadi ironi antara pasar dan keselamatan warga.
Tower BTS TBG roboh di Kembangan Utara. Warga menilai proyek tidak memiliki jarak aman, JACOBIN soroti dugaan kelalaian dan izin bermasalah.
Tower BTS TBG roboh di Kembangan Utara. Warga menilai proyek tidak memiliki jarak aman, JACOBIN soroti dugaan kelalaian dan izin bermasalah.

LENTERAMERAH — Penguatan saham PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menjadi sorotan setelah insiden tower Base Transceiver Station (BTS) roboh di Kembangan Utara, Jakarta Barat.

Data perdagangan pada Senin (13/4) menunjukkan saham Tower Bersama Infrastructure Tbk bergerak di kisaran Rp1.725–Rp1.730 dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp39 triliun.

Pergerakan saham tersebut terjadi hanya dua hari setelah insiden robohnya tower yang menimpa rumah warga di kawasan permukiman padat.

Insiden tower BTS roboh itu menyebabkan dua rumah mengalami kerusakan cukup parah. Sejumlah barang milik warga, termasuk televisi dan sepeda motor, ikut terdampak dalam kejadian tersebut.

Sekjen JACOBIN (Jaringan Aksi, Kontrol Kebijakan dan Intelijen), Ivan Panusunan, menilai kondisi ini menunjukkan kontras tajam antara kinerja pasar dan dampak di lapangan.

“Sangat ironis melihat korporasi yang mencetak laba triliunan di tahun 2025 justru gagal memastikan keamanan baut dan fondasi di pemukiman warga. Ini adalah bentuk nyata dari pengabaian standar keselamatan demi mengejar target ekspansi infrastruktur,” ujarnya.

Ia menyebut penguatan saham TBIG di tengah insiden tower BTS roboh tidak bisa dilepaskan dari persoalan mendasar dalam pengawasan proyek.

Menurutnya, nilai kapitalisasi pasar yang besar seharusnya diikuti dengan standar keselamatan yang ketat, terutama pada proyek di kawasan padat penduduk.

JACOBIN juga mempertanyakan proses penerbitan izin pembangunan tower tersebut.

“JACOBIN mempertanyakan bagaimana IMB atau PBG bisa terbit untuk menara di lahan sesempit itu. Kami mencium adanya kelalaian Dinas Citata DKI Jakarta dalam verifikasi lapangan,” tegas Ivan.

Ia menambahkan bahwa jika perhitungan jarak aman atau radius rebah menara tidak dilakukan secara benar, maka potensi risiko terhadap warga sudah dapat diprediksi sejak awal.

Dalam konteks ini, insiden tower BTS roboh dinilai bukan sekadar kecelakaan teknis, tetapi membuka indikasi persoalan dalam pengawasan dan pelaksanaan proyek konstruksi.

Perhatian publik terhadap pergerakan saham TBIG dan aspek keselamatan proyek terus meningkat seiring berkembangnya respons atas insiden di Kembangan Utara. ***