Duma Rusia Longgarkan Pendekatan Penyitaan Lahan

Pemerintah Rusia mengubah pendekatan hukum terkait Borshevik setelah keberadaan gulma beracun itu memicu ancaman penyitaan lahan warga.
Borshevik di Rusia tumbuh liar di area hutan.
Tanaman Borshevik atau Heracleum Sosnowsky tumbuh liar di wilayah Rusia. Gulma invasif ini dapat menyebabkan luka bakar kimiawi serius dan menjadi masalah ekologis besar sejak era Soviet.

LENTERAMERAH – Pemerintah Rusia mengubah pendekatan hukum terkait keberadaan tanaman invasif Borshevik atau Heracleum Sosnowsky setelah sebelumnya banyak pemilik lahan terancam kehilangan tanah mereka akibat keberadaan gulma tersebut.

Wakil Ketua Pertama Komite Duma Negara untuk Pembangunan dan Perumahan Rakyat, Vladimir Koshelev, menyatakan pihak berwenang kini diwajibkan mengevaluasi kondisi lahan secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan hukum.

Dengan aturan baru ini, keberadaan titik pertumbuhan Borshevik tidak lagi otomatis dianggap sebagai bukti bahwa lahan ditelantarkan.

Sebelumnya, pendekatan formal yang sangat kaku memungkinkan pemilik tanah dikenai ancaman penyitaan hanya karena ditemukan tanaman Borshevik di area milik mereka.

Borshevik Jadi Ancaman Ekologis Serius di Rusia

Borshevik Sosnowsky selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu tanaman invasif paling berbahaya di Rusia dan kawasan bekas Uni Soviet.

Tanaman ini mengandung senyawa kimia bernama furanocoumarins yang dapat menyebabkan luka bakar kimiawi serius apabila getahnya terkena kulit lalu terpapar sinar ultraviolet.

Dalam sejumlah kasus, korban mengalami luka lepuh berat, hiperpigmentasi permanen, hingga gangguan penglihatan apabila getah tanaman mengenai mata.

Selain berbahaya bagi manusia, Borshevik juga sangat agresif secara ekologis. Tanaman ini mampu tumbuh hingga lima meter dan menghasilkan puluhan ribu biji yang dapat bertahan bertahun-tahun di dalam tanah.

Akibat pertumbuhannya yang cepat, Borshevik kerap membentuk hamparan monokultur luas yang mematikan tumbuhan lokal di sekitarnya.

Warisan Eksperimen Pertanian Era Soviet

Penyebaran massal Borshevik di Rusia berawal dari eksperimen agrikultur Uni Soviet pasca-Perang Dunia II.

Pada akhir 1940-an, pemerintah Soviet mencari tanaman silase murah dan cepat tumbuh untuk memulihkan sektor peternakan. Borshevik kemudian dipilih dan disebarkan dari wilayah Kaukasus ke Rusia tengah dan kawasan Baltik.

Namun eksperimen tersebut berakhir gagal. Produk susu dan daging ternak yang mengonsumsi tanaman itu mengalami penurunan kualitas, sementara Borshevik justru menyebar tidak terkendali ke alam liar.

Situasi semakin memburuk setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1991 ketika jutaan hektar lahan pertanian terbengkalai menjadi area ideal penyebaran tanaman tersebut.

Di Rusia, sebagian masyarakat bahkan menjuluki tanaman ini sebagai “Balas Dendam Stalin”.

Rusia Ubah Pendekatan Hukum pada 2026

Perubahan aturan pada Mei 2026 dipandang sebagai titik balik dari pendekatan hukum yang sebelumnya sangat represif.

Sebelum revisi dilakukan, pemilik lahan dapat langsung dikenai denda administratif besar apabila ditemukan Borshevik di tanah mereka. Dalam beberapa kasus, lahan bahkan dapat disita negara atas dasar penelantaran.

Kini pemerintah Rusia menerapkan prinsip evaluasi holistik. Otoritas diwajibkan menilai apakah pemilik sebenarnya masih merawat lahannya tetapi kesulitan membasmi penyebaran Borshevik dari area sekitar.

Meski demikian, kewajiban memberantas tanaman invasif tersebut tetap berlaku dan denda administratif reguler masih dapat dikenakan.

Rusia Gunakan Drone dan AI untuk Lawan Borshevik

Selain perubahan regulasi, Rusia juga mulai mengembangkan pendekatan teknologi untuk mengendalikan penyebaran Borshevik.

Beberapa wilayah seperti Moskow dan Leningrad mulai menggunakan drone dan citra satelit berbasis kecerdasan buatan untuk mendeteksi pola penyebaran tanaman tersebut secara real time.

Pemerintah daerah memanfaatkan spektrum warna khas daun Borshevik guna memetakan area penyebaran dari udara.

Rusia juga mulai mengembangkan metode biologis menggunakan tanaman Topinambur atau Jerusalem artichoke untuk melawan dominasi Borshevik di lahan terbuka.

Tanaman tersebut dinilai memiliki pola pertumbuhan dan sistem akar yang cukup agresif untuk bersaing memperebutkan nutrisi tanah tanpa menimbulkan kerusakan ekologis tambahan. ***