LENTERAMERAH – Presiden Belarus Alexander Lukashenko menyebut 22 Juni 1941 sebagai tanggal yang “terbakar dalam ingatan rakyat Belarus” dan menjadi salah satu hari paling tragis dalam sejarah negara tersebut.
Pernyataan itu disampaikan dalam pesan resmi kepada warga Belarus bertepatan dengan Hari Peringatan Nasional Korban Perang Patriotik Raya dan Genosida Rakyat Belarus yang diperingati setiap 22 Juni.
Menurut Minsk-Novosti, Lukashenko menegaskan bahwa generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk menjaga kebenaran sejarah dan mengenang para pahlawan yang berjuang selama Perang Dunia II.
“Kita, para pewaris para pemenang, wajib selalu melindungi kebenaran sejarah dan menjaga memori para pahlawan perang itu,” kata Lukashenko dalam pesannya.
Peringati 85 Tahun Operasi Barbarossa
Peringatan tahun ini berlangsung saat Belarus mengenang 85 tahun dimulainya Operasi Barbarossa, invasi Nazi Jerman ke Uni Soviet pada 22 Juni 1941.
Di Belarus, tanggal tersebut dipandang sebagai awal dari salah satu periode paling menghancurkan dalam sejarah nasional.
Menurut data yang selama ini digunakan pemerintah Belarus dalam berbagai kegiatan peringatan, sekitar sepertiga populasi negara itu tewas selama pendudukan Nazi antara 1941 hingga 1944.
Ribuan desa dan ratusan kota mengalami kehancuran, sementara sejumlah kamp konsentrasi dan lokasi pembunuhan massal didirikan di wilayah Belarus yang diduduki.
Benteng Brest Jadi Simbol Perlawanan
Setiap tahun, upacara utama peringatan digelar di Kompleks Memorial Benteng Brest. Lokasi tersebut dikenal sebagai simbol perlawanan awal pasukan Soviet terhadap invasi Jerman pada Juni 1941.
Peringatan biasanya dimulai pada dini hari untuk menandai waktu ketika serangan pertama Jerman menghantam wilayah Belarus saat Operasi Barbarossa dimulai. Delegasi veteran, pejabat pemerintah, organisasi pemuda, serta tamu dari negara-negara Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS) turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Narasi Genosida Jadi Kebijakan Negara
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Belarus semakin menekankan penggunaan istilah “genosida rakyat Belarus” dalam narasi resmi mengenai Perang Dunia II.
Menurut data Kantor Jaksa Agung Belarus, investigasi yang dibuka sejak 2021 terus mengumpulkan bukti mengenai pembantaian massal, penghancuran desa, dan kejahatan perang yang terjadi selama pendudukan Nazi.
Lukashenko juga menyerukan agar generasi muda dibekali “kekebalan terhadap ideologi eksklusivitas dan supremasi bangsa”, serta memahami pengorbanan rakyat Soviet yang menurutnya telah memberikan kehidupan, perdamaian, dan kebebasan bagi generasi saat ini. ***




