LENTERAMERAH – Mantan CEO Google Eric Schmidt mengkritik perkembangan model kecerdasan buatan (AI) asal China yang mayoritas dikembangkan secara open source dan tersedia secara luas untuk publik.
Dalam sebuah forum yang videonya beredar pada 21 Juni 2026, Schmidt menyatakan bahwa hal yang paling tidak ia sukai dari perkembangan AI China adalah sifatnya yang terbuka dan tidak berada di bawah kendali Amerika Serikat.
“What I don’t like about China’s AI is that it’s all open source, which means it’s largely uncontrolled and not controlled in any way by us,” kata Schmidt dalam rekaman tersebut.
Pernyataan itu kemudian dibagikan oleh pengusaha dan pengamat geopolitik Arnaud Bertrand melalui akun X miliknya.
Schmidt Soroti Model AI China yang Terbuka
Menurut Schmidt, model-model AI China yang bersifat open source membuat teknologi tersebut dapat diakses dan digunakan secara bebas oleh berbagai pihak.
Ia menilai kondisi tersebut berbeda dengan pendekatan yang digunakan sejumlah perusahaan teknologi Amerika Serikat yang mengembangkan model AI secara tertutup dan dengan pengawasan yang lebih ketat.
Komentar Schmidt muncul ketika sejumlah model AI China seperti DeepSeek dan Qwen semakin banyak digunakan oleh komunitas pengembang di berbagai negara.
Model-model tersebut tersedia secara terbuka sehingga dapat dijalankan, dimodifikasi, dan dikembangkan tanpa bergantung pada infrastruktur perusahaan teknologi Amerika Serikat.
Hanya Sedikit Negara Bisa Mandiri di AI
Dalam pernyataan yang sama, Schmidt juga berbicara mengenai peta kekuatan AI global. Ia mengatakan hanya dua atau tiga negara yang memiliki kapasitas untuk menjadi kekuatan AI independen.
“If that makes you feel any better, only two or three countries can be independent AI powers,” ujar Schmidt. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China, khususnya dalam pengembangan model AI, infrastruktur komputasi, serta semikonduktor canggih. ***




