LENTERAMERAH – Israel kembali menjadi sasaran kritik internasional setelah muncul laporan yang menunjukkan lebih dari 170.000 tenda kini menutupi berbagai wilayah di Gaza, memaksa hampir satu juta warga Palestina hidup dalam kondisi pengungsian berkepanjangan.
Aktivis dan jurnalis Palestina menyebut kondisi tersebut sebagai hasil langsung dari operasi militer Israel yang berlangsung sejak Oktober 2023. Dalam unggahan yang dibagikan Sarah Wilkinson pada 21 Juni 2026, jurnalis Gaza Tamer Alnoaizy menggambarkan Gaza sebagai “kamp konsentrasi terbesar di dunia” yang tercipta akibat perang dan kehancuran yang melanda wilayah tersebut.
Video yang beredar memperlihatkan hamparan tenda dalam skala masif berdiri di antara reruntuhan bangunan yang sebelumnya menjadi kawasan permukiman warga Palestina.
Operasi Israel Ubah Wajah Gaza
Selama hampir tiga tahun perang, operasi militer Israel telah mengubah lanskap Gaza secara drastis. Kawasan-kawasan permukiman yang sebelumnya padat penduduk kini berubah menjadi area reruntuhan. Rumah, sekolah, fasilitas kesehatan, jaringan air, serta infrastruktur sipil lainnya mengalami kerusakan luas akibat serangan yang berlangsung berulang kali.
Berbagai laporan internasional memperkirakan antara 76 hingga 83 persen bangunan tempat tinggal di Gaza mengalami kerusakan atau hancur selama konflik.
Akibatnya, jutaan warga Palestina kehilangan tempat tinggal dan terpaksa berpindah dari satu lokasi pengungsian ke lokasi lainnya.
Hampir Satu Juta Warga Palestina Tinggal di Tenda
Data Shelter Cluster dan Norwegian Refugee Council (NRC) yang dirilis pada Juni 2026 menunjukkan sekitar 170.000 rumah tangga kini tinggal di tenda-tenda darurat.
Dengan rata-rata ukuran keluarga di Gaza, angka tersebut setara dengan hampir satu juta warga Palestina yang hidup di bawah terpal dan struktur darurat lainnya.
Puluhan ribu keluarga lain tinggal di lokasi penampungan yang kelebihan kapasitas, sementara sebagian lainnya bertahan di bangunan rusak atau ruang terbuka karena tidak memiliki alternatif tempat tinggal.
Situasi tersebut menjadikan krisis pengungsian di Gaza sebagai salah satu yang terbesar dalam konflik modern jika dibandingkan dengan luas wilayah yang relatif kecil.
Aktivis Tuding Israel Ciptakan Krisis Kemanusiaan
Aktivis pro-Palestina menilai lautan tenda yang kini mendominasi Gaza tidak dapat dipisahkan dari operasi militer Israel yang menghancurkan sebagian besar lingkungan sipil di wilayah tersebut.
Mereka berpendapat bahwa kehancuran rumah-rumah warga Palestina telah menciptakan kondisi di mana populasi sipil dipaksa hidup berdesakan di kamp-kamp pengungsian darurat dalam jangka waktu yang panjang.
Unggahan yang viral pada 21 Juni itu menggunakan istilah kamp konsentrasi terbesar di dunia untuk menggambarkan kondisi Gaza saat ini. ***



