LENTERAMERAH – Seorang pejabat senior yang mewakili Pemimpin Tertinggi Iran di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan bahwa negosiasi dengan Amerika Serikat tidak dimaksudkan untuk menciptakan hubungan persahabatan antara kedua negara.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidato yang dipublikasikan Tasnim News Agency pada 21 Juni 2026, ketika delegasi Iran masih menjalani pembicaraan teknis lanjutan dengan Amerika Serikat di Swiss terkait implementasi Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani beberapa hari sebelumnya.
Dalam pidatonya, pejabat tersebut mengatakan bahwa Iran memandang negosiasi sebagai instrumen untuk memperjuangkan kepentingan nasional, bukan sebagai jalan menuju rekonsiliasi dengan Washington.
Negosiasi Dipandang Sebagai Kelanjutan Perjuangan
Menurut kutipan yang dipublikasikan Tasnim, pembicara menegaskan bahwa Iran bernegosiasi dengan Amerika Serikat untuk memperoleh hak-haknya, sebagaimana tujuan yang ingin dicapai dalam sebuah konflik atau perang.
“Kami tidak bernegosiasi untuk berdamai. Kami bernegosiasi untuk mengambil hak kami sebagaimana dalam perang,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat Iran tidak menaruh kepercayaan penuh kepada Amerika Serikat, dengan alasan bahwa kesepakatan dan komitmen yang dibuat Washington dapat berubah sewaktu-waktu.
Pernyataan tersebut mencerminkan salah satu prinsip utama dalam doktrin politik Republik Islam Iran sejak Revolusi 1979, yakni ketidakpercayaan terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Muncul Saat Iran dan AS Berunding di Swiss
Pidato tersebut muncul ketika delegasi Iran yang dipimpin Ketua Majlis Mohammad Bagher Ghalibaf sedang menjalani pembicaraan lanjutan dengan delegasi Amerika Serikat di Swiss.
Pertemuan tersebut merupakan bagian dari implementasi MoU yang mencakup penghentian operasi militer di berbagai front regional, pembahasan isu Lebanon, keamanan Selat Hormuz, serta sejumlah aspek terkait sanksi dan stabilitas kawasan.
Dalam beberapa hari terakhir, Iran berulang kali menegaskan bahwa pembicaraan dengan Washington tidak berarti perubahan mendasar dalam pandangan ideologis negara tersebut terhadap Amerika Serikat.
Garis Keras IRGC Tetap Dipertahankan
Dalam pidato yang sama, pejabat IRGC tersebut mengatakan bahwa hari ketika Iran menjadi sahabat Amerika Serikat tidak akan pernah datang. Ia juga menyebut permusuhan terhadap apa yang disebut Tehran sebagai “arogansi global” akan terus berlanjut.
Retorika semacam ini bukan hal baru dalam politik Iran. Pernyataan serupa juga kerap muncul selama proses perundingan nuklir yang menghasilkan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2015 maupun setelah Amerika Serikat keluar dari kesepakatan tersebut pada 2018.
Pidato yang dipublikasikan Tasnim itu kembali memperlihatkan bagaimana kalangan IRGC berupaya membedakan antara kebutuhan diplomasi praktis dengan posisi ideologis yang tetap menjadi bagian dari identitas politik Republik Islam Iran. ***




