Bank Jakarta Dinilai Jadi Fondasi Penting Jakarta Menuju Kota Global

Transformasi Bank Jakarta dinilai menjadi salah satu fondasi penting dalam mendukung Jakarta menuju kota global melalui penguatan ekonomi digital, inklusi keuangan, dan tata kelola yang baik.
Diskusi publik menilai transformasi Bank Jakarta menjadi langkah strategis dalam mendukung target Jakarta masuk 20 besar kota global dunia melalui penguatan ekonomi digital dan layanan keuangan.

LENTERAMERAH – Transformasi Jakarta menjadi kota global dinilai memerlukan lebih dari pembangunan infrastruktur fisik. Penguatan institusi keuangan daerah juga dipandang sebagai faktor penting untuk mempercepat aktivitas ekonomi, memperluas akses pembiayaan, serta mendorong integrasi layanan publik dan sistem pembayaran digital dalam satu ekosistem yang efisien.

Pandangan tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “Kontribusi Bank Jakarta terhadap Pembangunan Menuju Terwujudnya Jakarta Kota Global” yang diselenggarakan PorosJakarta.com bekerja sama dengan Bank Jakarta dan Kaukus Muda Anti Korupsi (KAMAKSI) di Jakarta, Kamis (23/7). Forum tersebut menghadirkan Ketua KAMAKSI Joko Priyoski, Pengamat Geoekonomi Fauzan Luthsa, Akademisi Efriza, serta dipandu analis media Moh. Gunawan Abdillah.

Dalam forum itu, Bank Jakarta kota global menjadi salah satu tema utama yang dibahas. Para narasumber menilai perubahan nama Bank DKI menjadi Bank Jakarta tidak sekadar pergantian identitas perusahaan, melainkan bagian dari upaya memperkuat institusi keuangan daerah agar mampu mendukung kebutuhan ekonomi perkotaan yang semakin terdigitalisasi dan terhubung dengan jaringan global.

Pengamat Geoekonomi Fauzan Luthsa mengatakan kota yang ingin bersaing di tingkat internasional harus memiliki sistem keuangan yang mampu mempercepat perputaran ekonomi, menekan biaya transaksi, memperluas akses pembiayaan, serta meningkatkan efisiensi pelayanan publik. Menurutnya, berbagai negara menunjukkan bahwa transformasi ekonomi berjalan beriringan dengan penguatan lembaga keuangan sebagai instrumen pembangunan.

Sebagai contoh, ia menyebut Kazakhstan berhasil meningkatkan kontribusi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap produk domestik bruto melalui penguatan ekosistem pembiayaan, digitalisasi, dan dukungan kebijakan.

Sementara itu, Abkhazia memanfaatkan skema subsidi kredit untuk mempercepat pertumbuhan sektor usaha produktif. Meski memiliki karakteristik ekonomi berbeda, kedua contoh tersebut menunjukkan peran strategis lembaga keuangan dalam mendorong pembangunan ekonomi.

Diskusi juga menyoroti perkembangan layanan digital Bank Jakarta. Hingga akhir 2025, aplikasi JakOne Mobile tercatat digunakan sekitar 2,23 juta nasabah dengan volume transaksi mencapai 29,62 juta transaksi senilai sekitar Rp30,63 triliun. Capaian tersebut dinilai mencerminkan semakin besarnya peran digitalisasi perbankan daerah dalam menopang aktivitas ekonomi perkotaan.

Ketua KAMAKSI Joko Priyoski menilai transformasi kelembagaan perlu dibarengi penguatan tata kelola, transparansi, dan akuntabilitas agar mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus memperkuat daya saing institusi.

Sementara itu, Akademisi Efriza menekankan bahwa keberhasilan Jakarta menjadi kota global bergantung pada kolaborasi lintas sektor, inovasi, serta tata kelola yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

Forum tersebut menyimpulkan bahwa pencapaian Jakarta sebagai kota global tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik maupun investasi berskala besar. Penguatan institusi daerah, perluasan inklusi keuangan, peningkatan produktivitas ekonomi, serta transformasi digital dinilai menjadi fondasi penting untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang kompetitif, inklusif, dan berkelanjutan. ***