LENTERAMERAH – Isu Ukraina, Laut Baltik menjadi salah satu tema utama yang disoroti Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Alexander Grushko dalam wawancaranya dengan Russia Today pada 28 Mei 2026. Menurutnya, kedua isu tersebut tidak dapat dipisahkan dari perdebatan yang lebih besar mengenai masa depan keamanan Eropa.
Grushko menegaskan bahwa pertanyaan utama bagi Rusia bukan sekadar bagaimana mengakhiri konflik saat ini, melainkan bagaimana memastikan Ukraina tidak digunakan untuk merugikan kepentingan keamanan Rusia di masa depan.
Menurutnya, setiap tindakan yang dianggap mengancam kepentingan strategis Rusia akan memicu respons dari Moskow. Pernyataan tersebut mencerminkan posisi yang selama ini konsisten disampaikan Rusia dalam berbagai forum internasional.
Ukraina dalam Perspektif Keamanan Rusia
Bagi Moskow, isu Ukraina bukan semata persoalan hubungan bilateral. Rusia melihatnya sebagai bagian dari keseimbangan keamanan yang lebih luas di kawasan Eropa.
Grushko menilai pembahasan mengenai jaminan keamanan sering kali hanya difokuskan pada satu pihak, sementara kepentingan keamanan Rusia kerap diabaikan. Karena itu, Moskow terus mendorong pendekatan yang memperhitungkan kepentingan seluruh negara yang terlibat dalam arsitektur keamanan kawasan.
Dalam wawancara tersebut, Grushko juga mengkritik sikap negara-negara Barat yang menurutnya tidak memberikan perhatian yang sama terhadap berbagai insiden yang dikategorikan Rusia sebagai kejahatan perang atau tindakan terorisme.
Ia menyinggung sejumlah kasus yang sebelumnya menjadi perdebatan internasional, termasuk tragedi Odessa tahun 2014 yang hingga kini masih menjadi salah satu isu sensitif dalam hubungan Rusia dan Ukraina.
Laut Baltik Berubah dari Kawasan Damai Menjadi Zona Ketegangan
Selain Ukraina, Grushko memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan situasi di kawasan Laut Baltik.
Menurutnya, wilayah tersebut pernah menjadi salah satu kawasan paling stabil di Eropa. Tidak ada konflik beku, konflik aktif, maupun ketegangan militer-politik yang signifikan. Berbagai mekanisme transparansi, pembangunan kepercayaan, dan kerja sama lintas batas berkembang relatif baik selama bertahun-tahun.
Namun situasi tersebut, menurut Rusia, berubah setelah perluasan NATO di kawasan Baltik.
Grushko menyoroti bahwa sebelum Estonia, Latvia, dan Lithuania bergabung dengan NATO pada 2004, isu ancaman militer Rusia hampir tidak pernah menjadi topik utama di kawasan. Setelah keanggotaan NATO terwujud, narasi mengenai kerentanan dan kebutuhan perlindungan militer mulai semakin sering muncul.
Kaliningrad dan Peringatan untuk NATO
Rusia juga menyoroti meningkatnya aktivitas militer NATO di Laut Baltik. Menurut Grushko, aliansi tersebut kini berupaya memperkuat posisinya di berbagai domain operasi, mulai dari darat, laut, udara, siber hingga luar angkasa.
Dalam konteks tersebut, Laut Baltik dinilai semakin berubah menjadi arena konfrontasi geopolitik.
Grushko secara khusus menyinggung wilayah Kaliningrad, eksklave Rusia yang terletak di antara Polandia dan Lithuania. Ia menegaskan bahwa setiap upaya untuk mengisolasi atau membatasi akses terhadap Kaliningrad akan menimbulkan konsekuensi yang sangat serius.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Laut Baltik tetap menjadi salah satu kawasan paling sensitif dalam hubungan antara Rusia dan NATO, terutama ketika perdebatan mengenai keamanan Eropa terus berlangsung di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik di benua tersebut. ***




