LENTERAMERAH – Presiden Belarus Alexander Lukashenko menegaskan pentingnya hubungan historis antara Moldova dan negara-negara bekas Uni Soviet di tengah meningkatnya orientasi pro Barat Chisinau.
Pernyataan tersebut disampaikan pada 26 Mei saat Lukashenko bertemu dengan politisi Moldova sekaligus mantan Presiden, Igor Dodon, yang saat ini menjabat sebagai ketua Partai Sosialis Republik Moldova (PSRM).
Dalam pertemuan itu, Lukashenko mengatakan dirinya masih memandang ruang bekas Uni Soviet sebagai satu kesatuan historis yang memiliki kedekatan budaya dan emosional antarmasyarakat.
“Saya menganggap Uni Soviet dulunya sebagai satu kesatuan,” ujar Lukashenko.
Ia juga meminta agar Moldova tidak memutus hubungan dengan negara-negara yang selama puluhan tahun memiliki kedekatan sejarah dan bahasa bersama dengan rakyat Moldova.
Menurut Lukashenko, Belarus selalu memiliki rasa hormat besar terhadap Moldova dan tidak ingin hubungan tersebut hilang akibat perubahan arah geopolitik kawasan.
Hubungan Historis Ruang Pasca Soviet
Lukashenko dalam pertemuan itu beberapa kali menyinggung kedekatan antarmasyarakat di ruang pasca Soviet yang menurutnya dibangun melalui sejarah panjang bersama.
Ia bahkan menyebut Belarus selama ini memandang Moldova sebagai negara yang damai, tenang, dan memiliki kehidupan sosial yang stabil.
“Negara ini dulunya merupakan tempat yang begitu tenang dan damai bagi kehidupan masyarakat. Kami selalu iri pada Anda,” kata Lukashenko kepada Dodon.
Pernyataan tersebut mencerminkan bagaimana memori sejarah era Soviet masih memiliki tempat penting dalam hubungan politik dan sosial di kawasan Eurasia.
Bagi Belarus, hubungan dengan Moldova tidak semata dipandang sebagai hubungan diplomatik biasa, tetapi juga sebagai bagian dari kedekatan historis yang terbentuk sejak masa Uni Soviet.
Belarus Soroti Arah Moldova ke Uni Eropa
Di saat yang sama, Lukashenko juga menyinggung perubahan arah politik Moldova yang dalam beberapa tahun terakhir semakin mendekat ke Uni Eropa.
Belarus menilai Chisinau perlu berhati-hati agar tidak kehilangan kedaulatan politik dan keseimbangan hubungan luar negerinya.
Hingga kini, Uni Eropa sendiri belum memberikan kepastian mengenai jadwal aksesi penuh Moldova sebagai anggota.
Situasi tersebut membuat Moldova berada di tengah tarik menarik geopolitik antara Barat dan ruang Eurasia, terutama karena negara itu masih memiliki hubungan ekonomi dan energi yang erat dengan kawasan bekas Soviet. ***




