LENTERAMERAH – Iran melancarkan serangan ke pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait setelah operasi militer AS terhadap sejumlah fasilitas Iran di Goruk dan Pulau Qeshm pada 30–31 Mei 2026. Insiden ini kembali meningkatkan ketegangan di sekitar Selat Hormuz yang beberapa pekan terakhir berada dalam situasi rapuh.
AS Serang Target Iran di Qeshm
Amerika Serikat lebih dahulu melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Iran yang berada di Goruk dan Pulau Qeshm.
Menurut keterangan militer AS, operasi tersebut menarget radar, pusat kendali drone, dan sistem pertahanan yang dianggap terkait dengan ancaman terhadap aktivitas pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Serangan itu menjadi salah satu operasi militer paling signifikan sejak diberlakukannya gencatan senjata pada April 2026.
Iran Balas Lewat Kuwait
Tak lama setelah operasi tersebut, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan serangan balasan yang menargetkan pangkalan militer AS di Kuwait.
Iran menilai fasilitas tersebut memiliki keterkaitan dengan operasi yang dilakukan terhadap Goruk dan Pulau Qeshm.
Sistem pertahanan udara Kuwait dilaporkan berhasil mencegat sebagian besar rudal dan drone yang masuk. Namun puing hasil intersepsi tetap menyebabkan kerusakan terbatas serta melukai sejumlah personel di area fasilitas militer.
Gencatan Senjata Hormuz Kembali Diuji
Rangkaian peristiwa ini kembali menempatkan Selat Hormuz dalam situasi yang sensitif.
Iran menyebut operasi AS sebagai tindakan agresi yang mengganggu stabilitas kawasan. Sebaliknya, Washington menegaskan serangan tersebut dilakukan untuk melindungi keamanan pelayaran dan kepentingannya di kawasan.
Iran menyebut operasi AS sebagai tindakan agresi yang mengganggu stabilitas kawasan. Sebaliknya, Washington menegaskan serangan tersebut dilakukan untuk melindungi keamanan pelayaran dan kepentingannya di kawasan.
Pulau Qeshm dan Goruk berada di lokasi strategis dekat pintu masuk Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.***



