Peneliti Temukan Risiko Kognitif pada Pekerja Shift Malam

Kerja shift malam tidak hanya memengaruhi pola tidur, tetapi juga dikaitkan dengan penurunan kemampuan memori, konsentrasi, dan pengendalian emosi.
Pekerja shift malam berada di depan komputer saat jam kerja larut malam.
Analisis lebih dari 14 ribu MRI menemukan hubungan antara kerja shift malam dan penurunan fungsi kognitif.

LENTERAMERAH – Kerja shift malam selama bertahun-tahun dapat berdampak pada kemampuan berpikir dan kesehatan otak seseorang. Temuan tersebut terungkap dalam penelitian terbaru yang dilakukan tim ilmuwan dari Singapura terhadap ribuan peserta dewasa.

Selain menemukan perubahan struktur pada beberapa bagian otak, penelitian itu juga menunjukkan adanya hubungan dengan penurunan fungsi kognitif, termasuk memori, perhatian, dan kemampuan mengelola emosi.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal NeuroImage tersebut menganalisis 14.198 pemindaian MRI dari UK Biobank. Sebanyak 2.122 peserta diketahui memiliki pengalaman bekerja dengan sistem shift, termasuk jadwal kerja malam.

Memori dan Konsentrasi Menurun

Para peneliti menemukan bahwa pekerja shift cenderung memiliki volume yang lebih kecil pada thalamus kanan dan amigdala kiri dibanding kelompok yang bekerja pada jam normal.

Kedua area tersebut memiliki peran penting dalam berbagai fungsi otak. Thalamus berhubungan dengan perhatian, pemrosesan informasi, dan memori, sementara amigdala berkaitan dengan pengelolaan emosi dan respons terhadap stres.

Menurut hasil penelitian, perubahan pada area-area tersebut berkorelasi dengan penurunan kemampuan memori kerja, kecepatan berpikir, dan stabilitas emosional.

Para peneliti juga menemukan pola yang disebut dose-response relationship. Artinya, semakin lama dan semakin sering seseorang menjalani kerja shift malam, semakin besar perubahan yang ditemukan pada struktur otaknya.

Gangguan Ritme Sirkadian

Para ilmuwan menilai gangguan ritme sirkadian menjadi salah satu faktor utama yang menjelaskan temuan tersebut.

Jam biologis manusia secara alami dirancang untuk beristirahat pada malam hari dan aktif pada siang hari. Ketika pola itu terus-menerus terganggu, tubuh mengalami perubahan hormonal yang dapat memengaruhi berbagai sistem biologis.

Gangguan pada produksi melatonin dan kortisol diketahui berhubungan dengan kualitas tidur yang buruk, peningkatan stres, serta gangguan proses pemulihan tubuh.

Sejumlah penelitian sebelumnya juga mengaitkan kerja shift malam dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga gangguan kesehatan mental.

Tidak Semua Orang Mengalami Dampak yang Sama

Peneliti menegaskan bahwa dampak kerja shift tidak selalu identik pada setiap individu.

Faktor seperti usia, genetika, kualitas tidur, pola makan, aktivitas fisik, serta lamanya seseorang menjalani kerja malam dapat memengaruhi tingkat risiko yang dihadapi.

Karena itu, para ilmuwan menilai penting bagi perusahaan dan pekerja untuk memperhatikan manajemen jadwal kerja, kualitas istirahat, serta kesehatan jangka panjang bagi mereka yang bekerja di luar jam biologis normal. ***