Tas Dinosaurus Rp8 Miliar Tak Laku, Ini Teknologi di Baliknya

Tas kulit T-Rex yang dibuat menggunakan protein dinosaurus dan teknologi AI gagal terjual dalam lelang meski sempat menarik perhatian dunia.
Tas kulit T-Rex hasil bioteknologi yang ditawarkan dalam lelang di Paris.
Proyek tas kulit T-Rex memadukan fosil dinosaurus, kecerdasan buatan, dan bioteknologi modern untuk menciptakan material baru.

LENTERAMERAH Sebuah tas kulit T-Rex yang dibuat menggunakan teknologi bioteknologi dan kecerdasan buatan gagal terjual dalam sebuah lelang di Paris meski dipromosikan sebagai salah satu produk paling unik yang pernah diciptakan.

Penyelenggara lelang menargetkan harga hingga 500.000 euro atau sekitar Rp8 miliar. Namun penawaran tertinggi hanya mencapai sekitar 150.000 euro sehingga transaksi tidak terjadi karena tidak memenuhi harga minimum yang ditetapkan penjual.

Kegagalan tersebut menarik perhatian karena produk yang ditawarkan bukan sekadar tas mewah biasa, melainkan hasil eksperimen yang menggabungkan paleontologi, kecerdasan buatan, dan rekayasa biomaterial.

Bagaimana Tas Kulit T-Rex Dibuat?

Material yang digunakan sebenarnya bukan kulit asli dinosaurus. Para ilmuwan memanfaatkan data protein kolagen yang ditemukan pada fosil Tyrannosaurus rex berusia sekitar 67 juta tahun. Karena DNA dinosaurus sudah tidak dapat digunakan, peneliti memanfaatkan kecerdasan buatan untuk memodelkan kembali struktur protein yang diyakini menyerupai kolagen hewan purba tersebut.

Struktur protein hasil pemodelan kemudian digunakan dalam proses rekayasa biologis menggunakan mikroorganisme di laboratorium untuk menghasilkan biomaterial baru. Material inilah yang kemudian diolah menjadi produk yang secara pemasaran disebut sebagai kulit T-Rex.

Seluruh proses tersebut merupakan bagian dari upaya mengembangkan alternatif terhadap kulit hewan konvensional yang selama ini digunakan industri fesyen.

Mengapa Tidak Laku?

Meski teknologi di baliknya tergolong canggih, respons pasar barang mewah ternyata tidak sesuai harapan. Salah satu tantangan utama adalah persepsi kolektor terhadap nilai sebuah barang mewah. Di pasar barang premium, nilai sering kali berasal dari kelangkaan alami, sejarah, serta keaslian material yang digunakan.

Sementara itu, material yang digunakan pada tas ini merupakan hasil rekayasa laboratorium yang secara teori dapat diproduksi kembali dalam jumlah lebih besar jika teknologi dan biaya produksinya memungkinkan.

Faktor harga juga menjadi perhatian. Dengan target setengah juta euro, tas tersebut masuk ke kategori barang koleksi eksklusif yang menyasar kelompok pembeli sangat terbatas.

Teknologi yang Masih Mahal

Di luar dunia fesyen, teknologi yang digunakan untuk membuat tas ini dianggap memiliki potensi lebih luas. Produksi biomaterial berbasis protein hasil rekayasa biologis masih membutuhkan fasilitas laboratorium dan bioreaktor berbiaya tinggi. Karena itu, teknologi tersebut belum siap untuk produksi massal dengan harga murah.

Sejumlah peneliti melihat pendekatan serupa berpotensi digunakan dalam pengembangan material medis, rekayasa jaringan, serta berbagai aplikasi industri yang membutuhkan bahan dengan karakteristik khusus.

Kegagalan lelang di Paris menunjukkan bahwa keberhasilan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan keberhasilan komersial. Meski berhasil menarik perhatian publik dengan konsep kulit dinosaurus yang dibangkitkan melalui AI dan bioteknologi, pasar barang mewah tampaknya belum sepenuhnya menerima material laboratorium sebagai pengganti material premium tradisional. ***