LENTERAMERAH – Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert kembali menjadi perhatian setelah cuplikan wawancaranya mengenai program nuklir Iran beredar luas di media sosial pada 20 Juni 2026.
Dalam video yang dibagikan akun X Furkan Gozukara, Olmert menyatakan bahwa Iran mematuhi Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) sebelum Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan tersebut pada 2018. Pernyataan itu segera memicu perdebatan karena bertentangan dengan narasi yang selama bertahun-tahun disampaikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Menurut Olmert, kesepakatan yang dicapai pada 2015 berhasil membatasi program nuklir Iran melalui mekanisme inspeksi dan pembatasan pengayaan uranium yang diawasi Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Ketika Israel Terbelah soal Iran
Video tersebut menarik perhatian karena yang berbicara bukan pejabat Iran atau diplomat Barat, melainkan mantan perdana menteri Israel sendiri.
Dalam berbagai wawancara sepanjang 2025 dan 2026, termasuk wawancara yang cuplikannya kembali beredar saat ini, Olmert berulang kali menyebut pembatalan JCPOA sebagai kesalahan strategis yang justru mempercepat kemajuan program nuklir Iran.
Ia juga menuduh Netanyahu memainkan peran penting dalam mendorong Presiden AS Donald Trump keluar dari kesepakatan tersebut. Klaim tersebut merupakan pandangan politik Olmert dan telah lama menjadi bagian dari persaingan antara kedua tokoh Israel itu.
Dari Pengayaan 3,67 Persen ke 60 Persen
Perdebatan mengenai JCPOA berpusat pada satu pertanyaan utama, yakni apakah kesepakatan itu berhasil menahan program nuklir Iran.
Laporan-laporan IAEA pada tahun-tahun awal implementasi menunjukkan Iran menjalankan berbagai kewajiban teknis yang tercantum dalam perjanjian. Selama periode tersebut, tingkat pengayaan uranium Iran dibatasi pada angka yang jauh lebih rendah dibanding kondisi saat ini.
Setelah AS keluar dari JCPOA pada Mei 2018 dan kembali menerapkan sanksi ekonomi, Iran secara bertahap mengurangi kepatuhannya terhadap berbagai ketentuan kesepakatan. Dalam tahun-tahun berikutnya, pengayaan uranium meningkat hingga mencapai tingkat yang jauh lebih tinggi.
Fakta inilah yang menjadi dasar argumen Olmert bahwa pembatalan kesepakatan tidak menghentikan program nuklir Iran, melainkan menciptakan kondisi yang membuat Teheran memiliki ruang lebih besar untuk meningkatkan aktivitas nuklirnya.
Debat yang Kembali Muncul
Pernyataan Olmert muncul ketika berbagai laporan media internasional menyebut Washington dan Teheran kembali membahas kemungkinan kerangka kesepakatan baru terkait program nuklir Iran.
Di Israel sendiri, perdebatan mengenai warisan JCPOA tetap berlangsung. Sebagian kalangan menilai kesepakatan tersebut merupakan instrumen efektif untuk membatasi program nuklir Iran, sementara pihak lain berpendapat perjanjian itu sejak awal memiliki kelemahan mendasar karena tidak mencakup program rudal balistik dan jaringan kelompok proksi Iran di kawasan Timur Tengah. ***




