Tokayev Ingatkan AI dan Geopolitik Tidak Bisa Dipisahkan

Tokayev mengatakan AI berkembang di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia sehingga diperlukan tata kelola yang mampu memperkuat kerja sama dan mencegah konflik.
Tokayev memperingatkan perkembangan AI dan geopolitik berlangsung bersamaan dengan fragmentasi global sehingga membutuhkan kerja sama internasional yang lebih kuat.

LENTERAMERAH – Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev mengingatkan bahwa AI dan geopolitik kini menjadi dua isu yang saling berkaitan. Menurutnya, perkembangan kecerdasan buatan berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan global, menurunnya kepercayaan antarnegara, serta persaingan antarkekuatan besar.

Mengutip pernyataan resmi Kepresidenan Kazakhstan (Aqorda), Tokayev mengatakan hubungan antara AI dan geopolitik harus menjadi perhatian dalam penyusunan tata kelola kecerdasan buatan. Ia menilai kemajuan teknologi tidak boleh dilepaskan dari upaya menjaga stabilitas dan kerja sama internasional.

“Transformasi ini berlangsung ketika ketegangan geopolitik meningkat, kepercayaan di antara negara-negara besar menurun, dan dunia semakin terfragmentasi. Sayangnya, banyak negara lebih berfokus mengatasi dampak konflik daripada mencegahnya,” ujar Tokayev.

Menurut Tokayev, kecerdasan buatan justru membuka peluang untuk mengubah pendekatan tersebut. AI dapat dimanfaatkan guna memperkuat sistem peringatan dini, mendukung diplomasi preventif, meningkatkan efektivitas bantuan kemanusiaan, serta memperkuat operasi penjaga perdamaian.

Ia menegaskan bahwa pemanfaatan AI harus diarahkan untuk memperkuat perdamaian dan pembangunan berkelanjutan, bukan menjadi instrumen konfrontasi maupun perlombaan militer antarnegara.

Pernyataan itu disampaikan Tokayev dalam World Artificial Intelligence Conference (WAIC) di Shanghai, China, yang mempertemukan para pemimpin dunia, pembuat kebijakan, ilmuwan, dan pelaku industri untuk membahas masa depan kecerdasan buatan di tengah perubahan lanskap global. ***