LENTERAMERAH – Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev menegaskan pentingnya konsep pemerataan akses AI agar seluruh negara memiliki kesempatan yang sama memanfaatkan dan mengembangkan kecerdasan buatan. Menurutnya, tidak boleh ada negara yang hanya menjadi pengguna teknologi tanpa memiliki kemampuan untuk membangun ekosistem AI sendiri.
Mengutip pernyataan resmi Kepresidenan Kazakhstan (Aqorda), Tokayev mengatakan konsep pemerataan akses AI harus diwujudkan melalui penguatan sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur digital, serta peningkatan kapasitas kelembagaan. Dengan demikian, manfaat kecerdasan buatan dapat dirasakan lebih merata oleh seluruh negara.
“Tidak ada satu pun negara yang seharusnya hanya menjadi konsumen kecerdasan buatan. Setiap negara harus memiliki kesempatan untuk mengembangkan modal manusia, infrastruktur digital, dan kapasitas institusionalnya,” ujar Tokayev.
Ia menilai kecerdasan buatan berpotensi menjadi penggerak pembangunan yang adil dan inklusif apabila pengembangannya tidak hanya terkonsentrasi pada segelintir negara atau perusahaan teknologi. Karena itu, kerja sama internasional dinilai menjadi faktor penting untuk memperluas akses terhadap teknologi AI.
Tokayev juga menekankan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan harus tetap berada di bawah kendali manusia. Menurutnya, AI harus digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengabaikan tanggung jawab, etika, dan kepentingan publik.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam World Artificial Intelligence Conference (WAIC) di Shanghai, yang mempertemukan para pemimpin dunia, pembuat kebijakan, ilmuwan, dan pelaku industri guna membahas masa depan kecerdasan buatan serta tata kelolanya di tingkat global. ***




