LENTERAMERAH – Diplomasi AI Kazakhstan yang ditunjukkan Presiden Kassym-Jomart Tokayev dalam World Artificial Intelligence Conference (WAIC) di Shanghai memperlihatkan bahwa Astana tidak lagi memandang kecerdasan buatan semata sebagai sektor teknologi. AI kini diposisikan sebagai instrumen diplomasi untuk memperkuat pengaruh Kazakhstan di tengah perubahan tatanan global.
Pidato Tokayev tidak hanya berisi target pembangunan digital dalam negeri. Mengutip pernyataan resmi Kepresidenan Kazakhstan (Aqorda), ia juga mengusulkan pembentukan organisasi AI internasional, menawarkan Astana sebagai tuan rumah sidang perdana, serta mengajukan Kazakhstan sebagai lokasi kantor perwakilan organisasi tersebut untuk kawasan Asia Tengah. Langkah tersebut menjadi bagian dari Diplomasi AI Kazakhstan yang berupaya menempatkan negaranya sebagai penghubung dalam tata kelola AI global.
Pendekatan tersebut sejalan dengan kebijakan luar negeri Kazakhstan selama beberapa dekade terakhir yang mengedepankan diplomasi multivektor. Astana secara konsisten menjaga hubungan baik dengan China, Rusia, negara-negara Barat, Timur Tengah, maupun negara berkembang tanpa terjebak dalam blok geopolitik tertentu.
Dalam konteks AI, pendekatan itu diterjemahkan melalui dukungan terhadap tata kelola internasional yang inklusif. Tokayev menekankan pentingnya pemerataan akses AI, penguatan kerja sama lintas negara, serta pemanfaatan teknologi untuk perdamaian dan pembangunan, bukan sebagai alat memperdalam rivalitas antarnegara.
Pemilihan Shanghai sebagai panggung penyampaian gagasan tersebut juga memiliki makna strategis. China saat ini semakin aktif membangun arsitektur tata kelola AI alternatif yang memberi ruang lebih besar bagi negara-negara Global South. Dukungan Kazakhstan terhadap inisiatif tersebut memperlihatkan upaya Astana memperkuat posisinya dalam ekosistem teknologi yang berkembang di kawasan Eurasia.
Di sisi lain, Kazakhstan juga membawa modal domestik yang mendukung ambisi tersebut. Pemerintah mengembangkan strategi Digital Kazakhstan 2029, membangun Kota Alatau sebagai pusat inovasi, memperluas platform Smart City, serta menyiapkan regulasi khusus untuk sektor kecerdasan buatan. Kombinasi antara pembangunan nasional dan diplomasi internasional menunjukkan bahwa AI dipandang sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan daya saing ekonomi sekaligus memperluas pengaruh Kazakhstan di tingkat global.
Jika selama ini Kazakhstan dikenal sebagai kekuatan energi dan simpul logistik Eurasia, arah kebijakan Tokayev mengindikasikan ambisi baru. Astana ingin berkembang menjadi salah satu pusat diplomasi teknologi yang menjembatani kepentingan negara maju, negara berkembang, serta berbagai kekuatan besar dalam membentuk tata kelola kecerdasan buatan dunia. ***




