LENTERAMERAH — Universitas Cambridge meninjau proses pengangkatan akademisi senior setelah Jason Arday mengundurkan diri dari jabatan profesornya di tengah tuduhan plagiarisme dan pertanyaan mengenai sejumlah klaim dalam riwayat akademik serta profesionalnya.
Sebagaimana dilansir The Guardian, Arday mengundurkan diri pada 5 Agustus 2026 setelah Cambridge mengumumkan penyelidikan berdasarkan informasi baru mengenai kualifikasi dan kariernya. Arday tetap menyangkal melakukan kesalahan.
Cambridge mulai tinjau proses pengangkatan Arday
Arday diangkat sebagai Profesor Sosiologi Pendidikan pada 2023 dalam usia 37 tahun. Menurut situs resmi Cambridge, ia menjadi orang kulit hitam termuda yang pernah diangkat sebagai profesor di universitas tersebut. Cambridge ketika itu juga menonjolkan perjalanan hidupnya, termasuk kisah bahwa ia tidak dapat berbicara hingga usia 11 tahun dan baru dapat membaca serta menulis pada usia 18 tahun.
Kontroversi terbaru berawal dari tuduhan mengenai karya akademiknya. Retraction Watch melaporkan adanya analisis yang menemukan bagian-bagian dalam disertasi doktoral Arday memiliki kemiripan sangat dekat dengan disertasi peneliti lain. Sejumlah artikel akademiknya juga dipersoalkan karena kemiripan teks dan perubahan setelah publikasi.
Namun, persoalan tersebut tidak sesederhana vonis plagiarisme. Retraction Watch mencatat bahwa Cambridge sebelumnya menyatakan Arday telah dibersihkan dari tuduhan plagiarisme terhadap tesis dan publikasinya. Arday sendiri juga membantah tuduhan tersebut. Cambridge kini membuka penyelidikan baru setelah muncul informasi tambahan mengenai riwayat akademik dan profesionalnya.
Pertanyaan lain muncul mengenai sejumlah klaim dalam riwayat profesional Arday. The Guardian melaporkan bahwa beberapa institusi yang disebut dalam riwayatnya mempertanyakan atau menyangkal hubungan akademik yang pernah dikaitkan dengannya. Klaim mengenai prestasi olahraga dan aktivitas amalnya juga ikut diperiksa.
Pengunduran diri Arday meluas menjadi masalah Cambridge
Pengunduran diri tersebut membuat persoalan tidak lagi hanya menyangkut kredibilitas seorang akademisi. Cambridge kini menghadapi pertanyaan mengenai bagaimana pemeriksaan kredensial dilakukan sebelum seseorang diangkat menjadi profesor.
Menurut The Guardian, Cambridge telah memulai peninjauan terhadap proses rekrutmen setelah kasus tersebut. Namun, hampir 100 akademisi senior meminta penyelidikan yang lebih luas dan independen terhadap proses pengangkatan Arday serta cara universitas menangani kontroversi yang muncul.
Perdebatan juga merembet ke kebijakan keberagaman di universitas Inggris. Sebagian akademisi kulit hitam khawatir kasus tersebut digunakan untuk mendiskreditkan agenda keberagaman secara lebih luas. Di sisi lain, pengkritik Cambridge mempertanyakan apakah dorongan meningkatkan representasi kelompok minoritas telah diimbangi pemeriksaan kredensial dan standar akademik yang memadai.
Dengan demikian, pengunduran diri Arday kini menjadi ujian bagi Cambridge sendiri. Persoalannya bukan hanya apakah berbagai tuduhan terhadap seorang profesor dapat dibuktikan, tetapi juga apakah mekanisme universitas mampu mendeteksi dan menangani persoalan kredensial sebelum seorang akademisi memperoleh posisi setinggi itu. ***



