LENTERAMERAH – Target cakupan layanan air minum perpipaan 100 persen di Jakarta pada 2029 mulai memasuki fase yang menuntut percepatan pembangunan infrastruktur dan peningkatan kapasitas pasokan. Hingga Agustus 2026, cakupan layanan telah mencapai 82 persen dan PAM JAYA menargetkan peningkatan menjadi 86 persen pada akhir tahun.
Target 100 persen tersebut dimajukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dari rencana sebelumnya pada 2030. Percepatan dilakukan untuk memperluas akses air minum perpipaan sekaligus mengurangi ketergantungan warga terhadap air tanah yang menjadi salah satu faktor penurunan muka tanah di Jakarta.
Kinerja PAM JAYA mendapat perhatian dari sejumlah organisasi masyarakat dan kelompok aktivis di Jakarta, di antaranya Kaukus Muda Anti Korupsi (KAMAKSI), POROS MUDA NU dan Komunitas Warga Jaga Jakarta (KOMWAJA).
Ketua Umum DPP KAMAKSI Joko Priyoski menilai peningkatan cakupan layanan dan pembangunan jaringan menjadi salah satu alasan kelompok aktivis optimistis target tersebut dapat dicapai.
“faktor pendorong keyakinan publik dan Kelompok Aktivis terhadap PAM JAYA mampu mencapai target 100% air bersih karena kinerja PAM JAYA terus meningkat antara lain cakupan layanan air minum perpipaan di DKI Jakarta telah menembus 82%, bergerak signifikan menuju target pertengahan. PAM JAYA juga melakukan Ekspansi Infrastruktur Pipa Masif dengan menambah sekitar 7.000 km jaringan pipa baru untuk memperluas jangkauan dari 13.000 km menjadi +- 16.000 km di seluruh wilayah Jakarta. Hal tersebut menandakan performa kinerja PAM JAYA dibawah kepemimpinan Direktur Utama Arief Nasrudin semakin meningkat pesat sesuai harapan publik,” imbuh Aktivis yang kerap dikenal vokal di pergerakan.
Ekspansi tersebut menjadi bagian penting karena PAM JAYA masih menghadapi kesenjangan antara kapasitas distribusi dan kebutuhan ketika cakupan layanan mencapai 100 persen.
Saat ini PAM JAYA mendistribusikan air sekitar 22.000 liter per detik. Sementara kebutuhan untuk mencapai cakupan layanan penuh diperkirakan sekitar 33.000 liter per detik. Artinya, masih terdapat kebutuhan tambahan sekitar 11.000 liter per detik yang harus dipenuhi.
Dari sisi jaringan, PAM JAYA menyiapkan sekitar 7.000 kilometer pipa baru. Dengan tambahan tersebut, panjang jaringan perpipaan Jakarta yang saat ini sekitar 13.000 kilometer ditargetkan meningkat menjadi sekitar 16.000 kilometer.
Peningkatan kapasitas pasokan juga dilakukan melalui pembangunan sejumlah Instalasi Pengolahan Air (IPA). Beberapa proyek yang didorong antara lain IPA Buaran III dan IPA Pesanggrahan, sementara IPA Condet dan IPA Semanan masih dalam tahap perencanaan.
Di wilayah padat dan marjinal, PAM JAYA juga menyiapkan pendekatan yang berbeda melalui reservoir komunal dan stasiun pengisian air minum. Infrastruktur tersebut diarahkan untuk memperluas akses ke permukiman yang selama ini memiliki keterbatasan terhadap jaringan perpipaan.
Ketua Komunitas Warga Jaga Jakarta (KOMWAJA) Anwar Sjani menilai peningkatan sambungan rumah menjadi indikator lain yang menunjukkan ekspansi layanan PAM JAYA.
“Rekor Pemasangan Sambungan Baru PAM JAYA juga merupakan ukuran keberhasilan melakukan akumulasi puluhan hingga ratusan ribu sambungan rumah baru dalam kurun waktu singkat menjadi bukti komitmen operasional PAM JAYA”, ujarnya.
Dengan cakupan 82 persen pada Agustus 2026 dan target 86 persen pada akhir tahun, PAM JAYA masih memiliki sekitar 14 persen wilayah layanan yang harus dikejar hingga mencapai cakupan penuh pada 2029. Pada saat yang sama, kebutuhan tambahan kapasitas air sekitar 11.000 liter per detik menunjukkan bahwa ekspansi jaringan harus berjalan beriringan dengan peningkatan pasokan.
Koordinator Nasional POROS MUDA NU Ramadhan Isa menilai pencapaian target juga membutuhkan keterlibatan masyarakat. Edukasi mengenai penggunaan air perpipaan dan pengawasan terhadap infrastruktur menjadi bagian dari dukungan publik terhadap perluasan layanan.
Ia mengajak masyarakat ikut menjaga jaringan perpipaan, termasuk mengawasi potensi kebocoran fisik atau non-revenue water, serta mendorong peralihan dari penggunaan air tanah menuju air perpipaan.
Menurutnya, dukungan tersebut penting dalam agenda pembangunan Jakarta menuju kota global. ***




