Mengapa Uni Soviet Menandatangani Pakta dengan Hitler

Uni Soviet bernegosiasi dengan Inggris dan Prancis sebelum akhirnya menandatangani Pakta Molotov-Ribbentrop dengan Hitler pada 23 Agustus 1939.
Pakta Molotov-Ribbentrop lahir setelah kebuntuan negosiasi Soviet dengan Inggris dan Prancis menghadapi ancaman Hitler.

LENTERAMERAH — Pada 23 Agustus 1939, Uni Soviet menandatangani Pakta Molotov–Ribbentrop dengan Nazi Jerman. Keputusan itu kemudian menjadi salah satu bagian paling kontroversial dalam sejarah menjelang Perang Dunia II. Namun, pakta tersebut tidak muncul dari ruang diplomatik yang kosong. Selama berbulan-bulan sebelumnya, Moskow justru bernegosiasi dengan Inggris dan Prancis untuk membentuk kerja sama menghadapi ancaman Jerman.

Negosiasi trilateral itu berlangsung sejak pertengahan 1939. Persoalan utamanya bukan sekadar apakah ketiga negara bersedia bekerja sama, tetapi bagaimana bantuan militer tersebut dapat dilaksanakan jika Jerman menyerang Polandia atau negara-negara Eropa Timur lainnya.

Salah satu persoalan paling sulit adalah hak pasukan Soviet melewati wilayah Polandia dan Rumania. Uni Soviet tidak memiliki perbatasan langsung dengan Jerman. Jika perang terjadi, pasukan Soviet membutuhkan jalur untuk bergerak ke arah barat. Polandia menolak memberikan akses tersebut, sementara Inggris dan Prancis tidak berhasil menghasilkan penyelesaian yang dapat diterima Moskow. Menjelang akhir negosiasi, persoalan ini tetap menjadi titik kebuntuan.

Pada Agustus, situasinya semakin mendesak. Inggris dan Prancis telah memberikan jaminan kepada Polandia, sementara Hitler mempersiapkan serangan. Di Moskow, pembicaraan dengan London dan Paris tidak menghasilkan kesepakatan militer yang konkret.

Pada 21 Agustus, negosiasi militer praktis menemui jalan buntu. Dua hari kemudian, Menteri Luar Negeri Jerman Joachim von Ribbentrop tiba di Moskow.

Kali ini kesepakatan tercapai dengan cepat.

Pada 23 Agustus 1939, Vyacheslav Molotov dan Ribbentrop menandatangani pakta non-agresi. Kedua negara berjanji tidak menyerang satu sama lain selama sepuluh tahun. Secara terbuka, ini bukan aliansi militer. Tetapi perjanjian tersebut memiliki bagian yang jauh lebih menentukan: protokol rahasia mengenai pembagian wilayah pengaruh di Eropa Timur. Polandia dibagi ke dalam wilayah pengaruh Jerman dan Soviet, sementara negara-negara Baltik dan wilayah lain juga ditempatkan dalam sphere of influence masing-masing.

Karena itu, Molotov–Ribbentrop tidak dapat dipahami hanya sebagai “perjanjian damai” biasa. Uni Soviet memang memilih jalan kesepakatan dengan Hitler, tetapi kesepakatan itu muncul setelah upaya membangun front bersama dengan Inggris dan Prancis gagal.

Bagi Moskow, pakta tersebut memberikan sesuatu yang tidak berhasil diperoleh dari London dan Paris: kepastian strategis jangka pendek dan ruang untuk menghadapi ancaman Jerman tanpa langsung berperang pada 1939.

Tetapi konsekuensinya juga nyata. Setelah Jerman menyerang Polandia pada 1 September, pasukan Soviet masuk dari timur pada 17 September. Kedua negara kemudian membagi wilayah Polandia sesuai pengaturan yang telah dibuat. ***