Kazakhstan Ingin Putus Ketergantungan Impor Kalium dan Masuk TOP-10 Dunia

Kazakhstan sepenuhnya bergantung pada impor kalium, tetapi memiliki lebih dari 6,6 miliar ton cadangan dan membidik posisi TOP-10 produsen dunia.
Cadangan kalium Kazakhstan mencapai lebih dari 6,6 miliar ton, membuka peluang masuk TOP-10 produsen dan memperkuat ekspor.

LENTERAMERAH — Kazakhstan menghadapi paradoks dalam sektor pertaniannya. Negara ini memiliki cadangan garam kalium lebih dari 6,6 miliar ton, tetapi kebutuhan kalium untuk sektor pertanian masih sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Impor kalium Kazakhstan saat ini mencapai sekitar 14 ribu ton per tahun. Pada saat yang sama, produksi pupuk dalam negeri belum mencakup pupuk kalium sama sekali. Dari produksi pupuk yang ada, sekitar 48 persen merupakan pupuk nitrogen dan 52 persen pupuk fosfor.

Ketergantungan tersebut muncul ketika kebutuhan pupuk Kazakhstan justru terus meningkat. Saat ini, penggunaan pupuk mineral di Kazakhstan baru sekitar 25–35 kilogram per hektare, jauh di bawah rata-rata dunia yang mencapai 150–160 kilogram per hektare.

Dengan kondisi iklim yang kering dan persoalan salinitas tanah, kebutuhan domestik terhadap pupuk kalium diperkirakan dapat meningkat hingga lebih dari 300 ribu ton per tahun.

Di sinilah cadangan domestik Kazakhstan menjadi penting. Negara tersebut memiliki lebih dari 6,6 miliar ton cadangan garam kalium yang telah dikonfirmasi.

Beberapa deposit utama yang disebut dalam pengembangan basis bahan baku tersebut adalah Satimola, Chelkar dan Zhilyan.

Jika cadangan tersebut berhasil diubah menjadi kapasitas produksi, Kazakhstan tidak hanya dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor, tetapi juga berpeluang memasuki pasar kalium global.

Pasar tersebut memiliki nilai ekonomi yang besar. Pasar kalium dunia diperkirakan mencapai 74,5 juta ton atau sekitar US$65 miliar per tahun dan tumbuh sekitar 2,2–2,5 persen setiap tahun.

Namun, produksi kalium global sangat terkonsentrasi. Lebih dari 70 persen kapasitas produksi dunia berada di tiga negara, yakni Kanada, Rusia dan Belarus.

Konsentrasi tersebut memberikan Kazakhstan ruang untuk membangun posisi baru dalam rantai pasok pupuk global. Pada tahap pertama proyek yang direncanakan, Kazakhstan bahkan menargetkan masuk ke dalam jajaran 10 besar produsen kalium dunia.

Ambisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan ekspor. Bagi sektor pertanian Kazakhstan, produksi kalium domestik dapat melengkapi struktur pemupukan yang saat ini bertumpu pada nitrogen dan fosfor.

Kalium merupakan bagian ketiga dari “tiga serangkai kimia” unsur hara tanaman, bersama nitrogen dan fosfor. Penggunaan kalium membantu menjaga keseimbangan nutrisi tanaman, mempertahankan kesuburan tanah serta meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan, penyakit dan perubahan suhu.

Dengan demikian, produksi kalium domestik berpotensi memperkuat stabilitas produktivitas pertanian Kazakhstan, terutama ketika negara tersebut menghadapi kondisi kering dan persoalan salinitas tanah.

Potensi tersebut juga berkaitan dengan perkembangan konsumsi pupuk secara keseluruhan. Menurut data Kementerian Pertanian Kazakhstan, penggunaan pupuk mineral di negara itu meningkat dari 679 ribu ton pada 2023 dan ditargetkan mencapai 2,3 juta ton pada 2026.

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa pasar domestik pupuk Kazakhstan sendiri sedang berkembang. Produksi kalium lokal akan melengkapi rantai pasok yang selama ini belum memiliki komponen tersebut.

Dari sisi industri, proyek kalium juga berpotensi membawa Kazakhstan masuk ke aktivitas dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Negara tidak lagi hanya mengandalkan ekspor bahan mentah, tetapi dapat menghasilkan produk pupuk yang kemudian dipasarkan ke luar negeri.

Target pasarnya mencakup China, Brasil, India, Pakistan, Eropa dan Amerika Serikat. Dengan masuknya produk kalium ke pasar-pasar tersebut, Kazakhstan berpeluang memperluas basis ekspornya sekaligus membangun posisi dalam perdagangan pupuk global.

Pengembangan produksi domestik juga dikaitkan dengan ketahanan pangan. Mengurangi ketergantungan pada impor kalium berarti sektor pertanian tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan eksternal untuk salah satu unsur penting dalam pemupukan.

Pada saat yang sama, pembangunan industri kalium dapat memberikan efek yang lebih luas bagi perekonomian, mulai dari pengembangan industri kimia hingga penciptaan lapangan kerja baru.

Bagi Kazakhstan, persoalannya dengan demikian bukan sekadar bagaimana memenuhi kebutuhan 14 ribu ton kalium yang saat ini masih diimpor. Negara tersebut memiliki basis sumber daya yang jauh lebih besar daripada kebutuhan domestiknya saat ini.

Tantangannya adalah mengubah lebih dari 6,6 miliar ton cadangan tersebut menjadi industri yang mampu memasok kebutuhan dalam negeri sekaligus bersaing di pasar global.

Jika target produksi terealisasi, Kazakhstan akan bergerak dari posisi 100 persen importir kalium menuju produsen yang membidik jajaran 10 besar dunia. Perubahan itu sekaligus dapat melengkapi mata rantai yang selama ini hilang dalam industri agrokimia domestik. ***