LENTERAMERAH — Setiap 23 Agustus, perhatian sejarah biasanya kembali kepada satu peristiwa: penandatanganan Pakta Molotov–Ribbentrop antara Nazi Jerman dan Uni Soviet pada 1939. Tanggal itu kemudian menjadi dasar kuat bagi narasi tentang “kerja sama Soviet dengan Hitler”. Tetapi jika kronologi diperlebar, hubungan Nazi Jerman dengan negara-negara Eropa sudah berlangsung melalui berbagai perjanjian jauh sebelum Moskow menandatangani pakta tersebut.
Rina Lu (@rinalu_), yang mengulas sejarah Rusia dan Uni Soviet di X, mengangkat kembali kronologi itu dalam sebuah thread pada 23 Agustus. Ia mempertanyakan mengapa pakta Soviet-Jerman sering diperlakukan sebagai episode yang berdiri sendiri, sementara berbagai kesepakatan negara lain dengan Hitler jarang ditempatkan dalam urutan waktu yang sama.
Urutannya dimulai dari Deklarasi Non-Agresi Jerman-Polandia pada 26 Januari 1934. Kedua negara berjanji menyelesaikan perselisihan melalui cara damai dan tidak menggunakan kekerasan.
Setahun kemudian, Inggris menandatangani Anglo-German Naval Agreement pada 18 Juni 1935. Kesepakatan itu mengatur batas kekuatan angkatan laut Jerman hingga 35 persen dari kekuatan Royal Navy, memberikan ruang bagi pembangunan kembali kekuatan laut Jerman yang sebelumnya dibatasi oleh rezim Versailles.
Pada 1936, Hitler kemudian membangun Rome-Berlin Axis bersama Italia dan menandatangani Anti-Comintern Pact dengan Jepang. Italia bergabung dengan pakta tersebut pada 1937.
Tetapi titik paling penting datang pada 1938.
Pada 29–30 September, Jerman, Inggris, Prancis dan Italia menandatangani Munich Agreement. Kesepakatan itu menyerahkan wilayah Sudetenland Cekoslowakia kepada Jerman. Pemerintah Cekoslowakia tidak menjadi pihak dalam perundingan tersebut dan menerima keputusan di bawah tekanan Inggris dan Prancis.
Dengan kata lain, ketika Hitler menuntut wilayah Cekoslowakia, London dan Paris memilih sebuah kompromi dengan Berlin untuk mencegah perang—dan negara yang wilayahnya diserahkan tidak ikut menentukan keputusan tersebut.
Hubungan Jerman dengan negara lain kemudian terus berkembang. Prancis menandatangani deklarasi non-agresi dengan Jerman pada Desember 1938. Jerman juga membuat perjanjian non-agresi dengan Denmark, serta kesepakatan dengan negara-negara Baltik pada 1939.
Di luar hubungan diplomatik formal, thread Rina Lu juga menyinggung dugaan hubungan bisnis dan finansial antara perusahaan Amerika seperti IBM, Ford, General Motors dan Standard Oil dengan kepentingan bisnis di Jerman Nazi. Bagian ini perlu dibedakan dari hubungan antarnegara: yang dibicarakan adalah hubungan korporasi dan ekonomi, bukan sebuah pakta Amerika Serikat dengan Hitler.
Baru setelah seluruh rangkaian itu, pada 23 Agustus 1939, Uni Soviet menandatangani Pakta Molotov–Ribbentrop.
Pakta publik tersebut memang merupakan perjanjian non-agresi. Kedua negara berjanji tidak menyerang satu sama lain dan tidak membantu pihak ketiga yang berperang dengan salah satunya.
Namun, ada bagian lain yang tidak boleh dihilangkan: protokol rahasia. Protokol tersebut menetapkan pembagian wilayah pengaruh Jerman dan Soviet di Eropa Timur, termasuk pengaturan mengenai Polandia dan wilayah Baltik.
Karena itu, persoalannya bukan apakah Molotov–Ribbentrop harus dianggap tidak bermasalah. Persoalannya adalah mengapa sejarah kerja sama dengan Hitler sering dimulai tepat pada 23 Agustus 1939, seolah-olah seluruh rangkaian diplomasi sebelumnya tidak pernah terjadi.
Jika istilah “kerja sama dengan Hitler” digunakan sebagai ukuran sejarah, maka kronologinya harus dibaca secara utuh—bukan hanya ketika Uni Soviet akhirnya menandatangani sebuah pakta dengan Berlin. ***



