LENTERAMERAH – Perdebatan mengenai identitas Singapura kembali ramai di media sosial setelah akun pro-China membagikan cuplikan wawancara pendiri Singapura, Lee Kuan Yew, pada 1967. Dalam video tersebut, Lee berulang kali menegaskan bahwa dirinya bukan orang China secara politik, melainkan warga Singapura yang kebetulan berasal dari keturunan Tionghoa.
Pernyataan itu muncul ketika Lee ditanya mengenai perkembangan China. Ia menjawab bahwa dirinya tidak bisa berbicara sebagai orang China karena identitas politiknya adalah Singaporean. Pada saat yang sama, Lee mengakui bahwa dirinya berasal dari etnis Tionghoa.
Cuplikan kedua yang ikut beredar menampilkan CEO TikTok, Shou Zi Chew, dalam sidang Kongres Amerika Serikat pada 2024. Dalam sidang tersebut, Chew beberapa kali mendapat pertanyaan mengenai hubungan TikTok dengan pemerintah China dan Partai Komunis China.
Identitas Singapura Dibangun Sejak Awal Kemerdekaan
Viralnya kedua video tersebut memunculkan kembali diskusi mengenai identitas Singapura dan hubungan negara kota itu dengan China.
Meski sekitar tiga perempat penduduk Singapura berasal dari etnis Tionghoa, pemerintah sejak awal kemerdekaan memilih membangun identitas nasional yang terpisah dari identitas etnis. Pendekatan itu menjadi bagian penting dari upaya menciptakan negara multi-etnis yang terdiri atas komunitas Tionghoa, Melayu, India, dan kelompok lainnya.
Setelah berpisah dari Malaysia pada 1965, Singapura menghadapi tantangan untuk membangun loyalitas nasional yang tidak bergantung pada asal-usul etnis. Karena itu, Lee Kuan Yew berulang kali menekankan bahwa kewarganegaraan dan kesetiaan politik harus ditempatkan di atas identitas rasial.
Hubungan Dekat dengan AS dan China
Perdebatan yang muncul di X juga menyoroti hubungan Singapura dengan Amerika Serikat dan China. Sebagian akun nasionalis China menilai Singapura terlalu dekat dengan Washington meski mayoritas penduduknya memiliki akar budaya Tionghoa.
Namun kebijakan luar negeri Singapura selama beberapa dekade lebih dikenal sebagai pendekatan pragmatis. Negara tersebut memiliki hubungan pertahanan yang erat dengan Amerika Serikat sekaligus mempertahankan hubungan ekonomi yang kuat dengan China.
Posisi itu semakin mendapat sorotan di tengah meningkatnya persaingan antara Washington dan Beijing. Dalam konteks tersebut, pernyataan Lee Kuan Yew pada 1967 kembali digunakan oleh berbagai pihak untuk memperdebatkan apakah identitas etnis dan identitas nasional harus berjalan searah atau justru dipisahkan secara tegas seperti yang dilakukan Singapura sejak awal berdirinya sebagai negara merdeka. ***




